Seri “Wali Pitu” di Bali (3): Pangeran Mas Sepuh

Sesederhana itu? Entahlah. Yang pasti, keberadaan Pangeran Mas Sepuh tidak diterima di lingkungan istana Kerajaan Mengwi. Ia harus angkat kaki. Bisa jadi benar karena iri atau cemburu. Atau, lebih dari itu, bisa jadi mereka takut akan kalah pengaruh dan khawatir Pangeran Mas Sepuh hendak merebut tampuk kekuasaan. Juga, bisa jadi mereka khawatir dengan paham dan ajaran yang dibawa Pangeran Mas Sepuh beserta para pengikutnya. Karena, saat itu Pangeran Mas Sepuh juga sudah dikenal sebagai pendakwah dengan gelar Syekh Ahmad Hamdun Khairus Saleh.

Yang pasti, tak lama setelah kedatangannya, Pangeran Mas Sepuh diminta meninggalkan Kerajaan Mengwi. Tak ingin menimbulkan perselisihan berkepanjangan, Pangeran Mas Sepuh mengalah. Ia pergi meninggalkan Kerajaan Mengwi, hendak pulang ke Blambangan. Namun, saat tiba di Pantai Seseh, di Desa Munggu, beristirahat sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyeberang, rombongan Pangeran Mas Sepuh memperoleh serangan dari gerombolan orang tak dikenal. Gerombolan penyerang ini membawa senjata lengkap. Maka terjadilah perkelahian antara rombongan Pangeran Mas Sepuh dengan orang-orang tak dikenal itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saat terjadi pertempuran sengit itulah Pangeran Mas Sepuh mengeluarkan sebilah keris pemberian dari ibunya. Saat itu keris itu dikeluarkan dari sarungnya dan diacungkan ke langit, pasukan penyerang itu langsung terdiam. Lumpuh. Namun, Pangeran Mas Sepuh memberikan maaf kepada musuh yang sudah tidak berdaya itu, dan meminta mereka untuk pergi.

Setelah peristiwa penyerangan itu, Pangeran Mas Sepuh bersama para pengikutnya masih berdiam di Pantai Seseh untuk beberapa saat. Namun, entah oleh sebab apa, tak lama kemudian Pangeran Mas Sepuh wafat dan tidak pernah kembali ke Blambangan. Sebelum meninggal, Pangeran Mas Sepuh sempat berpesan kepada pengikutnya agar jika meninggal dibuatkan makam di Pantai Seseh.

Tinggalkan Balasan