Menuju STQ Nasional XXVI Sofifi #1: Serpihan Surga di Maluku Utara

Interaksi antara masyarakat Ternate dengan Gunung Gamalama telah melahirkan suatu bentuk kebudayaan dan tradisi. Salah satu tradisi yang muncul adalah Kololie Kie yang merupakan warisan nenek moyang penduduk Ternate. Tradisi ini berupa ritual mengelilingi Gunung Gamalama sambil mengunjungi sejumlah tempat dan makam keramat yang ada di gunung tersebut.

Tirual tradisional ini dilakukan sebagai upaya memanjatkan doa kepada Yang Kuasa dan para leluhur agar letusan Gunung Gamalama tidak membahayakan. Ritual ini dilakukan setahun sekali dalam festifal Lagu Gam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah puas menikmati keindahan Gunung Gamalama dari jalanan kota Ternate, kami menuju ke Benteng Kalamata yang terletak di pinggir pantai Kota Ternate. Dari benteng ini kita dapat melihat lautan lepas dan Gunung Tidore yang ada di seberang. Menurut catatan sejarah, benteng ini dibangun oleh Fransisco Serao, seorang pelaut dari Portugis pada tahun 1540 untuk menghadapi serangan Spanyol yang berada di Tidore.

Ketika Portugis mendarat di Ternate tahun 1512, setahun setelah menaklukkan Malaka pada 1511, Portugis melakukan koalisi dengan Sultan Ternate, Bayanullah. Dengan koalisi ini, Portugis memperoleh izin membangun pos atau kantor perdagangan di Ternate dan memonopoli pergangan rempah, terutama cengkih.

Sikap Portugis ini memancing reaksi dari Spanyol yang juga sedang berburu rempah di kawasan Maluku. Untuk mengimbangi manuver Portugis yang sudah berkoalisi dengan Sultan Nayanullah dari Kesultanan Ternate, maka Spanyol berkoalisi dengan Kesultanan Tidore.

Sejak saat itu terjadi perang saudata antara Ternate dan Tidore yang sama-sama muslim-Nusantara dan Spanyol dengan Portugis yang sama-sama Nasrani-Andalusia. Ternate didikung oleh Portugis, dan Tidore yang didukung oleh Spanyol. Pertempuran antara antara Spanyol dan Postugis baru berhenti setelah ada perjanjian Zaragosa yang ditandatangani pada 22 April 1529. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa Spanyol harus hengkang dari Maluku dan menerima kawasan Filipina sebagai daerah jajahan. Sedangkan, Portugis menguasai Maluku untuk melakukan monopoli perdagangan rempah. Sejak saat itu dimulailah era penjajahan di bumi Nusantara, khususnya di Kepulauan Maluku. Dan, Benteng Kalamata adalah saksi bisu atas peristiwa bersejarah itu.

Selain Benteng Kalamata, di Ternate juga terdapat Benteng Orange dan Tolukko. Benteng Orange berada di pusat Ternate, tepatnya di Jalan Hasan Boesoeri, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah. Berdasarkan informasi yang tertera di benteng tersebut, Benteng Orange dibangun 6 Mei 1607 oleh Cornelis Matchlief de Jonge. Pada tahun 1609 benteng yang dibangun ini diberi nama Orange oleh Francios Wittlent.

Tinggalkan Balasan