Benteng ini sebenarnya dibangun oleh Portugis, tetapi ketika Belanda datang ke Maluku, benteng ini diambil alih oleh Belanda, dan dijadikan markas besar VOC di Hindia Belanda. Pada tahun 1619, saat Gubernur Jenderal Hindia Belanda dijabat oleh Jan Pieterszoon Coen, markas besar VOC dipindah ke Batavia. Sejak saat itu, benteng ini menjadi tidak terawat dan baru dipugar dan direnovasi pada tahun 2015.
Perjalanan kami selanjutnya melihat Benteng Tolukko yang terletak di Kelurahan Sangadji, Kecamatan Ternate Utara. Dari atas benteng ini kami dapat melihat pemandangan laut dan Pulau Tidore, serta Gunung Gamalama yang menjadi latar belakang dari benteng tersebut.

Benteng ini dibangun oleh seorang panglima Portugis bernama Fransisco Serao. Sebagaaimana Bentung Kalamata, benteng ini dibangun untuk pertahanan Portugis agar dapat menguasai rempah-rempah dan mendominasi kekuatan di Maluku.
Ketika Belanda masuk Maluku, benteng ini berhasil direbut dan dikuasai pada tahun 1610. Setelah dikuasai, benteng ini kemudian direnovasi oleh Pieter Both. Pada tahun 1864, benteng ini dikosongkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Baru pada tahun 1996-1997, pemerintah Indonesia merenovasi benteng ini dan dijadikan sebagai cagar budaya.
Menjelajah Ternate hari itu saya seperti memasuki lorong waktu, kembali ke era kejayaan rempah-rempah yang menjadikan bangsa Nusantara bisa mengarungi dunia. Berbagai peninggalan yang ada di Ternate merupakan jejak sejarah yang bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan. Dari berbagaai jejak sejarah yang ada, jelas terlihat bahwa jalaur rempah itu memang nyata dan kita perlu menggali jejak tersebut secara serius untuk membangun rute peradaban di masa depan.
Maluku Utara tak hanya menyajikan keindahan alamnya yang eksotik laksana serpihan surga dan budayanya yang harmonik, tetapi juga menyimpan sumber pengatahuan lewat jejak sejarah yang melimpah.
