***
“Dulu pohon itu kecil dan tidak memiliki tangkai menjuntai, tetapi setelah besar dahannya juga membesar dan hampir menyentuh tanah.”

Wak Amad yang masih berusia tujuh tahun kurang dua bulan hanya dengan khidmat mendengarkan cerita nenek. Bahkan, perkataan sang nenek seperti tertancap di tempurung kepalanya. Benar, pohon itu bukan sembarang pohon yang tertanam dengan sendirinya. Dahulu di sekitar pohon itu terdapat bangunan berbentuk kubus. Di atas bangunan itu, orang-orang biasa melakukan ritual penyambutan makhluk dari alam lain. Penyambutan dimaksudkan untuk menghormati makhluk tak kasat mata.
“Apakah orang-orang dahulu tidak takut menyambut makhluk halus, Nek?”
“Makhluk halus sebetulnya senang dengan upacara penyambutan, itu sebabnya tidak akan ada yang merasa takut.”
Makhluk itu tidak banyak, bukan pula seperti bala tentara. Hanya satu. Orang-orang menyebut Suradal. Tidak ada yang tahu dari bahasa mana nama itu. Bahkan, nenek Wak Amad sendiri tidak memberikan jawaban ketika ditanya Wak Amad apa arti dari Suradal. Ia hanya menggambarkan bahwa Suradal bermata hitam dengan putih kecil di bagian tengah. Di kepalanya terdapat tiga tanduk sebesar buah salak.
Betul apa yang dikatakan Mak Mar, Suradal juga mengalami kemalangan. Ia pada muasalnya juga mempunyai istri yang cantik jelita sebagaimana manusia. Mereka berumah di pohon keranji yang pada saat itu tidak besar dan batangnya hanya cukup menampung dua orang. Entah masalah yang bagaimana hingga Suradal diusir istrinya dari pohon itu. Akibatnya, Suradal mengembara ke mana-mana. Seringkali Suradal masuk ke rumah penduduk dan mengetuk pintu-pintu rumah. Itulah sebabnya mengapa orang-orang malakukan penyambutan, agar Suradal yang putus asa merasa dihargai.
Tak disangka, bangunan berbentuk kubus yang dijadikan tempat penyambutan seketika roboh pada suatu malam yang hujan. Tidak ada yang berani mendirikan kembali bangunan di sekitar pohon keranji itu meski untuk menyambut Suradal. Kata nenek Wak Amad, bangunan itu sengaja dirobohkan oleh Suradal karena menurut orang-orang ia sudah bosan disambut setiap kali datang. Meski, kenyataannya penyambutan itu hanya dilakukan setiap malam Selasa.
Setahun yang lalu, Masnan juga mengalami hal yang paling menyedihkan sepanjang hidup. Ia tidak kencing sebagaimana yang dilakukan Wak Amad di area pohon itu. Masnan hanya memetik daun keranji yang sudah berwarna kuning. Menurut pikirannya, daun itu akan gugur juga makanya ia terlebih dahulu mengambilnya. Seminggu sesudah itu, istrinya yang hamil tiba-tiba kempis perutnya. Tentu, Masnan kebingungan, bagaimana mungkin orang hamil tiba-tiba hilang anak yang dikandungnya.
Ia bertanya kepada dukun, tetapi bukan Mak Mar. Katanya, kehilangan janin dalam perut istrinya disebabkan oleh ulah Masnan yang memetik daun setangkai. Sesudah jawaban itu, Masnan menangis berhari-hari. Sedang istrinya tidak percaya bahwa bayi yang dikandungnya tiba-tiba raib seketika. Jadilah mereka keluarga yang sama-sama mengurung diri dalam rumah dan tidak keluar sampai berbulan-bulan.
