Tidak cukup sampai di situ, istri Masnan juga frustrasi dan tidak mau makan berminggu-minggu. Itulah yang mengantarkan istrinya berpulang. Masnan ditinggal sendirian, ditinggal istri dan bayi raib hanya sebab daun yang kuning. Masnan mengutuk dirinya, hingga sekarang ia menjadi orang gila yang duduk di pasar Bunagung sepanjang pagi dan siang. Orang-orang dengan mudah mengenali Masnan yang gila hanya karena selembar daun keranji.
***

Tetap saja, bibir Wak Amad tidak bisa berbicara. Nyeri di bagian bawah tubuhnya sudah tidak bisa tertahan. Suaranya hanya erangan-erangan yang tidak jelas dan membuat mata Sapeya membengkak. Wak Amad seperti ingin menceritakan pada Sapeya tentang asal pohon itu yang sebetulnya. Selama perkawinan mereka, tidak sekali pun Wak Amad bercerita perihal pohon keranji. Padahal, setiap menjelang tidur biasanya Wak Amad bercerita banyak hal. Mulai dari kuda Jokotole yang bisa terbang sampai perahu Dampoawang yang juga mengawang-awang.
Sapeya semakin diserang perih, ia tatap mata Wak Amad yang sudah sembab. Ia tidak menemukan hari-hari cerah yang biasa memancar dari sana. Wak Amad kehilangan hari-harinya. Sapeya sekali lagi berhasrat untuk mendatangi Mak Mar dan menanyakan bagaimana kelanjutan penyakit suaminya. Ia berharap Mak Mar bisa memberikan saran yang bisa membuat hatinya menjadi lega dan suaminya kembali terjaga.
Bagiamana pun, Sapeya sudah tidak tahan dengan ranjang yang ditempati Wak Amad dan terasa bau pesing. Padahal, Wak Amad tidak perah kencing, ia hanya tergolek lemas di ranjang itu berhari-hari. Entah, Sapeya juga tidak tahu darimana bau pesing itu berasal. Yang jelas, itu bukan dari kencing suaminya. Seprai berwarna jingga di ranjang itu pula semakin kusut.
Mak Mar yang didatangi Sapeya duduk tenang di ruangan ditemani teplok di dinding. Malam meninggi sampai wuwungan rumahnya. Ia berharap Mak Mar sebisa mungkin mengerahkan seluruh kemampuannya menyelasaikan kemalangan ini. Sapeya mendudukkan pantatnya di atas ubin. Sebagaimana biasa, ia merapal mantra dan memejamkan mata. Sepuluh menit merapal banyak hal, ia berteriak.
“Itu Suradal! Itu Suradal!”
Sapeya terkejut sambil memandangi Mak Mar yang kembali terdiam. Tak disangka, Mak Mar melompat ke dada Sapeya. Sambil berucap bahwa Suradal berada di situ, maka tangan Mak Mar mencengkeram dada Sapeya. Di kepala Sapeya tidak ada apa. Ia hanya pasrah dan membayangkan suaminya yang tergolek lemah. Sementara, telpok di dinding apinya meliuk-liuk nyaris mati, umpama nasib Wak Amad setelah kencing berdiri.
Yogyakarta, 2021.
