***
“Sampai kapan pun Matropik tidak setuju ibu menikah dengan lelaki itu.”

“Tapi ibu tidak bisa terus hidup sendirian, Pik, apalagi kamu sudah berkeluarga.”
“Kalau pun ibu mau menikah, tidak dengan bajingan itu.”
Saat ibunya memberitahu Matropik bahwa ia dilamar oleh mantan petugas itu, sejenak dada Matropik remuk. Ia masih ingat meski samar-samar wajah tiga orang yang malam itu membawa paksa ayahnya. Hari ini, dua orang itu telah meninggal dan tertinggal satu orang, dialah yang melamar ibu Matropik. Tetapi, Matropik tidak terus-terang kepadanya ibunya soal orang yang melamar itu. Dengan keras Matropik hanya melarang ibunya kawin dengan dia karena alasan dia adalah bajingan yang tidak pantas mendampingi ibunya. Benar, beberapa orang telah bersaksi bahwa dia adalah orang yang tidak baik, atau bahkan bejat.
“Ibu tahu sendiri, dia telah membunuh banyak orang di sini.”
“Itu dulu, Pik, sekarang dia tidak lagi seperti apa yang ada di pikiranmu.”
“Terserah ibu, tapi jangan harap Matropik ke sini lagi setelah ibu menikah dengan si bajingan itu.”
Sesudah mengucapkan sesumbarnya itu, Matropik benar-benar tidak pernah lagi bertemu ibunya. Kemarahan di dadanya masih belum padam apalagi ibunya tetap ngotot menikah. Matropik benar-benar merasa wajahnya dilumuri tahi. Ia pikir, ayahnya juga akan menangis jika tahu ibunya menikah dengan orang yang sudah menjemput paksa malam itu. Kiranya memang sulit untuk mematikan api dendam di dada Matropik, kecuali ia juga bisa menumpas leher orang yang membawa ayahnya malam itu. Tapi, dua orang yang diketahui Matropik sudah mati, satu-satunya yang tersisa adalah suami ibunya itu.
***
“Apa maksud kamu harga barang-barang murah,” tanya lelaki kekar dengan wajah yang mencoba dibuat sesangar mungkin.
“Tidak ada maksud apa-apa, pak, saya benar-benar tidak tahu,” jawab Upek yang wajahnya sudah lebam.
