Setelah Ketukan Pintu Terakhir

Di ingatan Upek, kali terakhir tiga orang itu membenturkan kepalanya pada bak truk di halaman rumahnya. Sesudah sadar, yang ada di kepala Upek adalah wajah anaknya —Matropik. Ia menangis meraung-raung di kamar yang hanya disinari senter. Ia benar-benar ingat malam terakhir saat tidur bersama istri dan anaknya. Upek benar-benar tidak tahu jika malam itu ia harus pergi dengan paksa dari rumahnya. Andai ia tahu, tidak mungkin ia buka pintu, atau bahkan mungkin malah dikunci rapat-rapat. Sayangnya, nasib buruk tidak bisa dihindari, ia membuka pintu dan tidak mengiraukan anaknya yang membuntuti dari belakang.

“Tidak usah menangis, tolol, lelaki kok cengeng,” seseorang dengan wajah tertutup memarahi Upek.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ia tetap tidak berhenti dari tangisnya, betapa wajah Matropik masih lekat di kepalanya. Upek merasa bersalah karena tidak lagi bisa mengelus kepala anaknya dan menemaninya tidur. Upek juga yakin jika Matropik tidak akan berhenti menangis setelah ia dijemput paksa. Bagaimana pun Matropik memang selalu bersama Upek, ke mana pun. Daripada ibunya, Matropik lebih dekat kepada Upek. Di kepala Upek terbayang jika istrinya akan menikah lagi dan anaknya dibiarkan telantar. Tanpa sadar Upek berteriak lebih keras dan membuat tiga orang berseragam biru tua itu naik pitam. Tendangan secepat kilat mendarat di perut Upek, lalu disambut pukulan keras di bagian belakang lehernya.

Tapi Upek bertahan. Ia bahkan tidak pingsan setelah menerima pukulan-pukulan keras. Tiga orang berseragam itu mengikat tangan Upek lalu menggiringnya lewat lorong yang gelap. Hingga sampai di kamar mandi dengan bak mandi yang cukup lebar dan dalam. Tanpa aba-aba, tubuh Upek dimasukkan ke dalam. Tangan Upek tidak bisa memberontak, selain kakinya yang hanya menendang-nendang tanpa tujuan. Tawa tiga orang berseragam itu pecah berbarengan dengan tubuh Upek yang melemas. Ia diangkat dari bak mandi dan dibiarkan tergolek lemah di lantai. Setengah jam kemudian, Upek membuka mata pelan.

“Masih hidup juga lelaki miskin yang goblok ini,” suara itu entah dari orang yang mana.

Yang jelas, telinga Upek sudah tidak terlalu kuat untuk menangkap suara. Air serasa sudah memenuhi lubang telinga, hidup, dan mulut Upek. Di ujung pelipisnya, darah pelan-pelan mengucur, sebelum akhirnya bunyi pistol menembus bagian belakang kepala Upek.

***

Saya putus asa ketika ibu dengan ngotot menikah dengan orang telah membawa paksa ayah malam itu. Namun, saya tidak bisa bersikap berlebihan kepada ibu. Bagaimana pun ia tetap orang tua yang telah melahirkan saya dengan sangat susah payah. Ia membesarkan saya dengan keringat yang tidak bisa dibalas. Namun, untuk pilihannya menikah dengan lelaki itu, saya benar-benar tidak pernah rela, demi apa pun. Saya sudah bercerita kepada istri dan ia hanya berusaha menyuruh saya bersabar. Saya benar-benar tidak bisa bersabar, lelaki keparat itu telah menghancurkan masa kecil saya, ia telah membunuh ayah saya.

Sekitar jam delapan malam saya meminta izin kepada istri untuk bertamu ke rumah ibu. Sebagai manusia biasa saya tentu masih diliputi kangen yang tidak gampang diobati. Saya harus bertemu dengan ibu, namun tidak untuk suaminya. Rencana saya di sana hanya akan mengobrol dengan ibu Kalau pun suaminya ikut nimbrung, tidak akan pernah saya hiraukan. Sebagaimana malam-malam sebelumnya saat saya hendak berjalan, saya tetap tidak lupa untuk membawa sesuatu sebagai tanda kelelakian. Pisau peninggalan ayah yang dulu sering digantung di balik pintu, saya bawa, takut ada apa-apa di tengah jalan.

Setibanya di sana, pintu rumah ibu tertutup. Saya berusah mengetuknya, tapi sebelum itu pikiran buruk saya muncul. Saya menyiapkan pisau yang telah dibawa dari rumah, melepas sarung pisau yang terbuat dari kulit sapi. Saya membayangkan dalam-dalam malam terakhir saat ayah dijemput paksa.

Sesaat ketukan saya pada pintu lalu disambut suara lelaki dari dalam. Kuletakkan pisau di belakang tanpa kelihatan, tiga detik kemudian pintu terbuka dan si keparat suami ibu berada tepat di tengah pintu. Tanpa banyak pikir saya melompat menerjang dadanya, ia rubuh. Dari dalam ibu keluar, tapi sayang pisau peninggalan ayah sudah tertancap di dada si bajingan.

Tangis ibu pecah dan kepala saya kembali diserang ingatan-ingatan tak berguna malam itu. Kepala saya berisi ayah yang ditendang dan diseret dengan paksa oleh orang yang saat ini tengah tergeletak di hadapan mata kepala saya sendiri. Tidak ada perasaan yang lebih menggembirakan selain melihat si bajingan ini dengan dada bolong. Paling tidak ia merasakan betapa ketukan pada pintu adalah penanda kematian.

Tinggalkan Balasan