Si Jago yang Kesepian

“Ayam ini enggak aku jual, Dar. Biar jadi temanku di sini. Aku kesepian,” tekan Mbah Darman.

Sinar matahari mulai beringsut ke atas. Kali ini sudah melewati kepala manusia yang berdiri. Suara azan mulai menggema di Desa Bukit Harapan. Mbah Darman minta diri, bersiap-siap hendak melaksanakan kebutuhan insan kepada Tuhannya, yaitu salat Dhuhur. Seusai mengambil wudhu, lelaki yang sudah senja itu segera meraih peci kemudian melangkahkan kaki dengan semangat ke masjid yang tak jauh dari rumahnya.
***
Setiap hari Mbah Darman memberi makan dan minum ayamnya secara rutin. Lelaki itu sangat sayang sekali dengan jago hitam itu. Sampai-sampai kadang saat Mbah Darman terjaga di malam hari untuk menunaikan salat malam pun tak lupa mampir, sekadar mengecek keberadaan ayam miliknya itu. Hingga suatu malam pria bersarung motif kotak yang sudah usang dengan baju kemeja lengan pendek itu mendengar suara dari arah kandang ayamnya. Langkahnya sedikit memelan, menuju kandang yang terbuat dari besi itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Hei! Siapa itu?” seru Mbah Darman sembari menyenter ke arah kurungan ayamnya. Tampak seorang yang berpakaian serba hitam itu lari, menjauh dari rumah Mbah Darman.

Dengan sekuat tenaga yang dimiliki, Mbah Darman mengejar pencuri yang hampir membawa kabur ayam kesayangannya itu. Untung saja ayam jago itu masih berada di tempatnya. Napas lelaki itu memburu. Dia berusaha meraup sebanyak mungkin oksigen di sekitarnya dengan posisi kedua tangan berada di lutut sembari membungkuk.

“Untung saja si jago masih berada di sini. Kalau tidak. aku akan sangat kesepian,” ucap Mbah Darman.

Tak terasa butiran bening dari sudut netra Mbah Darman mendesak keluar. Beberapa tetes telah membasahi pipi keriputnya. Dia pun segera menyekanya. Bukan hanya karena ayam kesayangannya yang sukses meruntuhkan pertahanan lelaki tua itu, melainkan tiba-tiba bayangan istrinya menyapanya. Rasa rindunya muncul kembali. Sebab itulah, Mbah Darman membeli si jago hitam supaya bisa menghibur hatinya dari rasa kesepian yang menderanya.
***
Sudah tiga hari ini si jago milik Mbah Darman lesu, tak mau makan. Makanan yang sudah disiapkan oleh pemiliknya tak disentuh. Tubuhnya tampak lemas. Hal itu membuat si empunya bertanya-tanya.
“Kamu kenapa? Kok, enggak mau makan?” Mbah Darman bermonolog seraya membersihkan kandang ayam itu.

Berbagai macam cara sudah dilakukan lelaki itu supaya ayamnya pulih seperti sedia kala. Akan tetapi, hasilnya nihil. Mbah Darman semakin pusing oleh binatang kesayangannya itu.

Tinggalkan Balasan