*Catatan Perjalanan Ki Ageng Ganjur ke Vatikan (4)
Setelah menerima pencerahan dari Pak Dubes Trias Kuncahyono mengenai sejarah Takhta Suci Vatikan, rombongan Ki Ageng Ganjur (KAG) langsung berangkat menuju Gedung Dikasteri Dialog Antar-Agama untuk melaksanakan silaturahmi dan berdialog dengan para pastur Vatikan. Perlu waktu sekitar 30 menit dari KABRI Vatikan ke Gedung Dikasteri. Lokasi gedung berada sekitar 100 meter dari pelataran Gereja Basilika.


Setelah sampai di lokasi kami diterima Romo Markus Solo Kewuta, SVD, seorang pendeta ahli Islamologi yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat ini Romo Markus bertugas di Vatikan menangani desk Relasi Katolik-Muslim wilayah Asia-Pasifik.
Selain tu, Romo Markus juga menjabat sebagai Wakil Presiden Yayasan Nostra Aetate “Pendidikan Dialog Lintas Agama” pada kantor Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-Umat Beragama yang berkedudukan di Vatikan. Beliau menjadi penerjemah Paus Fransiskus saat berkunjung ke Indonesia bulan September lalu.
Romo Markus menerima kami di depan lukisan besar bergambar Paus sedang membuka tangan sambil menerima beberapa orang, di antaranya ada wajah Dalai Lama, Gandhi, sultan dari Timur Tengah, dan beberapa orang lainnya.
Sebelum dipersilakan masuk ruangan, Romo Markus menjelaskan makna dan asal usul lukisan tersebut. Menurut penjelasan Romo Markus, lukisan itu berasal dari seorang pelukis perempuan yang dibuat tahun 1978 dan diserahkan pada Paus, sebagai ekspresi atas keterbukaan sikap Paus untuk dialog dan menerima perbedaan.
Tangan terbuka Paus yang ada di gambar itu mencerminkan adanya keterbukaan dalam menerima perbedaan iman. Sedangkan, beberapa tokoh yang ada di hadapan Paus adalah cermin dari perbedaan iman penduduk dunia yang harus dirangkul dan diajak dialog.
Lukisan tersebut juga menunjukkan bayang-bayang tubuh paus yang berbentuk salib dan berada di bawah kaki para tokoh agama. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menerima dialog diperlukan kerendahan hati dan keikhlasan diri.
Saat sedang mendengarkan penjelasan dari Romo Markus mengenai makna lukisan, tiba-tiba Pak Dubes Trias datang dan bergabung dengan kami. Setelah menjelaskan lukisan di dinding kantor, Romo Markus mengajak rombongan KAG masuk dalam salah satu ruang pertemuan.
