Singkong Berakar Jari-jemari

Mendengar tangis dan cerita istrinya, ia terbelalak, kaget, dadanya sesak. Kemarahannya memuncak sampai ke ubun-ubun.

Kemudian ia masuk menemui Pak Liknya lagi, dan mengatakan semuanya. Pak Liknya Tarsawi tak menanggapinya, Ia lalu masuk ke kamarnya, kemudian ke dapur mengambil segelas air putih.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Minumlah, dan ini, bungkusan ini jangan kamu buka, bawa ke mana-mana, temui pembeli tanah itu, keluargamu sudah diusik. Bapakmu itu orang berani, masak kamu klemar-klemer.” Nada suara Pak Liknya berubah, setelah mendengar bahwa istrinya Tarsawi diancam-ancam.

“Enggih Pak Lik, sembah nuwun.” Tarsawi meminum segelas air putih tadi, lalu berpamitan pulang.

***

Tiga hari setelah itu, Tarsawi benar-benar pergi menemui Budiman. Siang itu ada yang berbeda dari Tarsawi. Ia benar-benar seperti bapaknya dulu. Ke mana-mana membawa sebilah pisau, tidak besar juga tidak terlalu kecil, tetapi kilaunya menunjukkan bahwa pisau itu tajam, lengkap dengan rangkanya.

Ia berpamitan kepada istrinya, mencium anaknya yang masih berumur dua bulan. Ia hanya berpesan, “Kalau aku yang diancam tidak masalah, tetapi karena istriku, garwaku, yang diancam, maka sudah menjadi lain urusannya.”

Tarsawi pergi menaiki motonya. Istrinya terus memandanginya sampai ia ditelan kejauhan. Ia selalu berdoa dalam hatinya, agar suaminya selamat tak kekurangan apa pun.

Budiman sudah menunggu sejak pagi rupaya. Ia dipersilakan duduk. Tak ada air minum. Tak ada pertanyaan tentang kabar. Ia langsung menanyakan jadi atau tidak Tarsawi menjual tanahnya.

Ia tak menanggapinya. Tarsawi malah bertanya mengapa anak buanya mengancam istrinya. “Istri saya tidak tahu-menahu perihal ini. Jadi tidak usah disangkutpautkan.”

Budiman hanya tertawa. Sambil menjawil anak buahnya, seperti paham kode dari bosnya, mereka yang tadinya duduk di belakang Budiman, kini pindah duduk di belakang Tarsawi. Tarsawi menyiapkan diri dan tetap waspada. Ia ingat pesan paman dan beberapa pamong desanya, yang mengatakan bahwa Budiman orangnya nekat.

Melihat gelagat tak menyenangkan, Tarsawi mengatakan bahwa ia mengurungkan niatnya untuk menjual tanahnya, dan berpamitan pulang. Mendengar hal itu, Budiman marah. Sejurus kemudian dua tangan besar memegan pundak Tarsawi, namun ia bisa terlepas dari genggaman itu. Ia menerjang dua anak buah Budiman, seketika terperosok ke bawah meja.

Budiman lari mengambil bedil ke dalam, disusul oleh Tarsawi. Tidak sempat meraih bedilnya, Budiman sudah tersungkur karena dipukul dengan potongan meja yang diraih Tarsawi di depan. Lalu ia mengeluarkan pisaunya, dan menghunuskannya ke Budiman. Ia pegang lehernya, lalu dibawa keluar. Anak buahnya tak bisa berbuat apa-apa, karena semakin maju, Budiman akan tertusuk pisau tajam di tangan Tarsawi.

Entah apa yang membuatnya kalap. Sekonyong-konyong Tarsawi menebaskan pisaunya ke jari-jari Budiman. Akhirnya beberapa jarinya terlempar ke tanah. Jerit Budiman memenuhi pekarangan rumahnya. Anak buahnya lari mendekap Budiman yang dilemparkan ke tanah oleh Tarsawi. Ia sudah menjadi manusia yang nekat, emosinya tak bisa dikendalikan, kepalanya panas. Ia merasa tertindas selama ini, dan diam saja. Akumulasi kemarahannya membuat Tarsawi dikuasai oleh rasa dendam.

Anak buah Budiman tak berkutik. Mereka tiba-tiba mengkerut ketika Tarsawi menggertaknya, dan menghunuskan pisaunya ke arah mereka berdua. Budiman pingsan. Darah yang mengalir dari tangannya sangat banyak. Beberapa waktu semua lelaki itu terdiam, napasnya tersengal-sengal.

“Bawa Budiman ke rumah sakit. Tiga jari itu jangan dibawa, mau aku tanam di kebun singkongku. Itu adalah tanda bahwa ia berani mengusik keluargaku,” ucap Tarsawi lirih.

Budiman dibopong dan segera dibawa pergi dari hadapan Tarsawai. Tarsawai segera pulang dan membersihkan diri. Keesokannya ia menemui Pak Liknya di Grangsil, dan mengembalikan bungkusan yang pernah diberikannya itu. Ia juga sudah menanam tiga jari milik Budiman di kebun singkongnya.

***

Tiba waktu panen singkong, orang-orang berduyun-duyun mengambil daun singkong untuk ternak mereka, melewati deretan rumah mewah yang berjajar di perumahan itu. Salah satu dari pencari rumput menemukan tulang belulang yang masih tersisa daginya, menempel bersama gumulan semut.

“Iki kok koyok driji yo…, Kang Tar, kok enek drijine wong nek kebunmu iki,” katanya sambil menunjukkanya ke Tarsawi. Tarsawi terdiam beberapa detik, lalu tersenyum.

“Iku jimate kebunku, jadi tanduren maneh yo…” ucap Tarsawi.

Lelaki pencari rumput itu terdiam, bingung, kemudian mengubur kembali tulang yang berbalut sisa-sisa daging itu.

Tinggalkan Balasan