SISA HUJAN TAHUN LALU
Belum kering sarung, di sela jemuran ia menyangkut,
bau hujan Desember, masih saja hidungku mematuk.
Di halaman masjid,
genangan airnya menyimpan bayangan, wajahku setahun lalu, terjebak dalam kenangan.
Tak benar-benar pergi hujan, hanya pindah ia,
ke dalam mataku,
saat Alfiyah, Juman dan ‘Aqidatul ‘Awam kian rahasia.
Januari adalah matahari malu,
jejak sedu hendak ia sapu,
namun dalam pinggir kitab kuning, nama rindu tetap membatu.

JANUARI: SEBUAH PINTU YANG TERBUKA SENDIRI
Tanpa mengetuk, Januari berdiri.
Di ambang gerbang, sunyi ia curi.
Terdorong angin subuh, pintu aula terbuka,
saat mimpi tentang rumah, santri masih mendekapnya.
Tak ada jeri engsel,
tak ada putar kunci,
hanya gugur kalender,
serupa zaitun di dinding suci.
Ke dalamnya aku masuk,
membawa kitab belum tunai,
menuju gema doa yang luas, dingin, dan urai.
HANYA GANTI ANGKA, BUKAN GANTI RASA
Masih bab yang sama,
Fathul Qarib terbuka,
hanya angka di surat kabar, melompat tanpa luka.
Seperti anak kecil lari, ibunya ditinggalkan,
rindu di bawah kopiah, pengungsi tua yang bertahan.
Tak kenal terompet ia, tak kenal kembang api,
hanya cara lama mencintaimu,
yang santri ini rapi.
Waktu adalah tasbih, yang berputar kembali,
pada titik yang sama,
meski jari lelah menghitung hari.
Hanya angka yang beralih,
sedang rasa tak berganti.
DI BALIK RIUH KEMBANG API YANG PADAM
Pecah langit di luar tembok,
oleh api warna-warni,
namun lilin di kamar ini, gemetar mengulang sunyi.
Saat asap masai dan ledakan terakhir meredup,
bising hati bertanya: sampai kapan buku ini kudekap hidup?
Di balik riuh yang padam,
wajah ‘kau kutemukan, pada sajadah robek,
tempat sujud kusempernakkan.
Tiada perayaan megah, selain dahi menyentuh bumi,
saat dunia berhenti berteriak, dan Tuhan memeluk aku.
KHIDMAH DI AMBANG MUSIM
