Jalaluddin Rumi sejak kecil sudah pintar. Bahkan begitu masuk ke Konya, saat berumur sekira 6/7tahun, sama ayahnya diajak sowan ke wali besar saat itu Fariduddin Attar. Begitu Fariduddin Attar melihat Rumi, waktu itu Rumi berdiri di belakang ayahnya. “Lihatlah lautan sedang datang dan di belakang lautan itu ada samudera,” kata Attar. Ya biasa, sufi dan wali itu lebih mengerti siapa yang jadi siapa. Dan ramalannya Fariduddin Attar benar bahwa Rumi ini jauh melebihi ayahnya .
Setelah ayahnya meninggal, Rumi menggantikannya. Kalau zaman sekarang mungkin di pondoknya. Santrinya banyak, 4000 orang lebih. Sehingga dikenallah Rumi dengan gelar Maulana; Maulana Rumi, tuan kami, tuannya orang Rum. Itu karena kepintarannya. Jadi dia profesor di zaman itu. Meskipun nanti ada titik balik kehidupannya yang membuat dia jadi tidak sekadar orang pintar, tapi juga sufi besar.

Yang membuat Rumi mengalami titik balik ini ketika ketemu gurunya namanya Syamsuddin at-Tabrizi; sufi misterius. Kisah Syamsuddin ini juga ada singgungannya dengan Sunan Kali Jaga. Waktu Sunan Kali Jaga ingin naik haji ke Mekkah kemudian transit di Malaya di Pulau Upih sedang menunggu kapal, bergurulah Sunan Kali Jaga kepada seorang wali yang bernama Syamsu Tabriz. Kalau di Serat Jawa namanya Syeikh Sut Tabrit. Syeikh Sut Tabrit ini dimungkinkan wali pengembara Syamsu Tabriz tadi. Meskipun ada beberapa kritik termasuk tidak singkron tahunnya. Tapi bisa jadi juga.
Jalaluddin Rumi jatuh cinta luar biasa sama gurunya. Jadi kita tidak usah heran kalau membaca sejarahnya Rumi. Rumi kok sampai segitunya, ya, sama gurunya, gurunya cowok lo. Ya seperti kita kagum sama guru yang kita anggap luar biasa. Dan Rumi ekstase kalau sama gurunya ini. Rumi dapat banyak sekali pelajaran dari Syamsu Tabriz. Dari situlah Rumi kemudian menarik diri dari dunia ramai; mulai zuhud, mulai uzlah, yang nantinya memunculkan fitnah-fitnah bikin Syamsu Tabriz tidak nyaman berada di dekat Rumi, kemudian pergi.
Ketika gurunya pergi, Rumi mengalami semacam depresi, semacam stres karena ditinggal orang yang paling disayangi. Mulai keluar bakat sastranya, syair-syairnya lahir. Termasuk nanti setelah ditinggal gurunya ini lahirlah tarian paling terkenal yang dapat kita lihat; orang barat menyebutnya Whirling Dervishe atau Tari Darwis: sufi berputar.
