Sketsa Biografis Jalaluddin Rumi

Suatu ketika dia pergi ke tempat salah satu muridnya, namanya Sholahuddin, seorang pandai atau penempa besi. Rumi di situ merenung, tiba-tiba dia dengar ketukan besi: teng-teng-teng. Lama-lama bunyi ketukan ini di telinganya Rumi kedengaran seperti bunyi wirid, zikir: Allah-Allah-Allah. Terus-menerus di setiap ketukannya dan secara tidak sadar tubuhnya bergerak mengikuti irama ketukan besi itu.

Dari situ nanti dia terus berputar dan dari situ pula nanti lahir Whirling Dervishe yang terkenal dalam Tarekat Maulawiyah. Tarekat yang dikembangkan sesuai ajaran-ajarannya Rumi, yang dirumuskan oleh sahabatnya yang bermana Syaikh Husyamuddin.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Rumi menulis beberapa kitab besar yang populer, yaitu Rubaa’iyat; Kitab yang berisi 1600 bait syair. Nanti kitab yang ditulis dan paling terkenal lagi adalah Diwanu Syamsu Tabriz, berisi pujian-pujian syair tentang gurunya. Adalagi tentang gurunya juga, yaitu Maqaalatu Syamsu Tabriz. Rumi menulis juga Maktuubaat. Namun yang paling terkenal dari Rumi, secara internasional juga, adalah Matsnaawi. Bagi beberapa tokoh, Matsnaawi ini disebut “Qur’an”nya Persia karena ditulis memakai bahasa Persia. Berisi 25.000 bait syair. Didiktekan pada sahabatnya Syaikh Husyamuddin dalam jangka kurang lebih 15 tahun. Meskipun tidak secara kontinu, di tahun-tahun terakhir kehidupannya Rumi, untuk menutupi kerinduannya kepada gurunya.

Syaikh Husyamuddin ini sahabatnya yang bertugas menulis sayir-syairnya Rumi. Namun jangan salah, Rumi kalau bersyair tidak pakai mikir tidak pakai menulis, namanya bil bidaachah. Jadi seperti orang bicara tiba-tiba keluarnya syair saja. Kalau orang kebanyakan bikin puisi satu baris keliru dicoret dihapus ganti lagi. Kurang indah dihapus ganti lagi. Tapi tidak dengan Rumi. Ia secara langsung, bil bidaachah; dari kata badichi yang artinya langsung. Jadi begitu Rumi ekstase, dia bicara dan muridnya mencatat. Dari situlah lahir Matsnaawi.

Dan syairnya Matsnaawi itu, diterjemahkan seorang orientalis, Nicholsen. Ia menerjemahkannya cukup lama, hampir 25 tahun. Menerjemahkan karya Rumi mulai 1925-1950. Orientalis itu berkenan sekian puluh tahun menggeluti karya umat Islam. Jangan dibandingkan dengan kita. Nanti kita malu. Kita bisanya hanya mencemooh orientalis. Padahal kita tidak setekun orientalis untuk belajar Islam. Itu kelebihan kita hari ini.

Tinggalkan Balasan