Sobir dan Kesabarannya

“Emang udah ada?”

“Ya belum, semisal aja.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Oh tak kira,” lalu menyulut sebatang rokok dari sakunya.

“Ya prinsipnya sama kayak dagang.”

“Apanya? Kayak jual beli?”

“Ya enggak,” sambil menjitak ubun-ubunku. Aduh.

“Yang paling penting itu jujur, le. Bapak tahu dunia ini akan semakin buruk. Tapi kita diberi akal oleh Gusti Maha Kuasa untuk dapat memilih. Katakan semuanya, dari dalam dirimu. Kita seperti apa, dan bagaimana jadinya.”

Itu semua sudah lama. Bapak mungkin sudah sangat lama memberikan wejangan-wejangan tak sengaja itu. Sebelum semua perkuliahanku selesai. Aku sudah mengusahakan sebisa mungkin. Meski hanya mendapat predikat terbaik di fakultas. Aku berharap kedua orang tuaku tak kecewa. Meskipun sebelumnya mereka sudah mengabari keadaan, bahwa tak ada yang bisa menjemputku pulang kecuali hanya sebatas doa.

Kecewa? Tidak. Tidak mungkin tak ada rasa kecewa. Sebagai manusia aku juga berkewajiban untuk memanusiakan perasaanku sendiri. Tapi sebagai seorang lelaki, pantang hukumnya kecewa dilebur dalam raut wajah. Menatap semua kawan disambut peluk mesra, membawa ijazah, dan foto bersama. Kulihat wanita impianku senyumnya tengah mengembang dengan teman-temannya. Kami sudah menghabiskan delapan semester bersama. Meski semua itu harus menyakiti orang terkasihku yang lainnya.

Kuhampiri dia dengan langkah mantap. Sebelumnya sudah kuisi rongga dadaku berulang kali, dan mengembuskan isinya dengan perlahan. Berulang kali juga. Lalu tangkap pergelangan tangannya sembari mengucap permisi, boleh saya pinjam dulu berliannya? Tanyaku pada gerombolan gadis manis itu. Dan mereka mempersilakanku dengan sedikit sipu-sipu. Aku ingin menuntaskan semuanya di sini.

“Mira, aku ingin bicara,” dia tersipu terhadapku mungkin mengharap sesuatu.

“Semua yang kamu tahu tentangku itu salah.”

Tinggalkan Balasan