Aku menjelaskan semuanya. Semua yang telah kupendam lama. Entah dia mau menerimanya atau tidak. Bagiku tak masalah. Pilihan tetaplah di tanganku, sedang takdir Tuhan siapa yang tahu. Waktu itu aku sudah pasrah. Memilihku terserah, tidak juga tak apa. Mira melangkah pergi dengan wajah ditekuk penuh. Kebenciannya tertumpuk pada alis yang bertemu di tengah keningnya. Sebelum itu dia mencuatkan kalimat, “Dasar pemuda miskin”. Lalu pergi begitu saja. Aku berjalan ke kos sendiri membawa selembar ijazah tergulung di ikat pita. Menatap langit dengan senyum lega. Mengetahui bahwa seenteng ini bila dari awal hubungan kami dilandasi kejujuran.
