Solidaritas dari Sikat Gigi

Sesuai namanya, modal mereka cuma satu: sikat gigi. Tak ada sabun. Sampo pun tak. Tapi entah bagaimana, tiap keluar dari kamar mandi mereka selalu kelihatan segar, wangi, dan percaya diri. Rahasianya? Cuma satu kalimat sakti: “Qolil yah” (sedikit yah).

Begitu masuk, SMS langsung memindai target—siapa yang bawa sabun dan sampo cair. Kalau sudah ketemu, mereka mulai mendekat pelan-pelan, senyum tipis, terus ngobrol basa-basi dulu. Semua dilakukan santai, seolah itu bagian dari budaya luhur pondok.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kalau saya perhatikan, biasanya pelaku SMS adalah santri senior. Pas masih baru, orang tua pasti ingin anaknya betah, jadi peralatan mandi selalu lengkap, stok dan kiriman dari rumah intens. Tapi begitu masuk tahun kedua atau ketiga, kiriman mulai jarang, uang saku makin tipis.

Daripada beli sabun, mending uangnya dipakai buat kebutuhan lain. Ditambah lagi, mungkin karena merasa sudah besar, santri senior kadang gengsi minta tambahan uang ke rumah. Makanya, SMS jadi solusi instan: wangi tanpa bikin dompet kering.

Jumlah pelaku SMS sebenarnya tak banyak. Tapi karena lingkungan pondok “sosial banget”, kebiasaan ini cepat menular. Awalnya cuma satu orang yang nitip sikat gigi di alat mandi teman, tapi lama-lama sikat giginya jadi banyak? Sabun dan sampo pemiliknya pun menyusut dengan drastis.

Tinggalkan Balasan