“Kamu tidak punya hak untuk mengganggu kami. Kami sedang melakukan pekerjaan kami. Kami sedang melakukan tugas kami. Kami sedang melakukan kewajiban kami. Kami sedang melakukan hak kami. Kami sedang melakukan demokrasi,” kata pencuri suara lainnya dengan nada sok dan angkuh.
“Kamu tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan kami. Kamu tidak tahu apa-apa tentang tugas kami. Kamu tidak tahu apa-apa tentang kewajiban kami. Kamu tidak tahu apa-apa tentang hak kami. Kamu tidak tahu apa-apa tentang demokrasi,” kata pencuri suara ketiga dengan nada ejek dan sinis.

“Kamu hanya tahu mengganggu kami. Kamu hanya tahu menjelek-jelekkan kami. Kamu hanya tahu menuduh-tuduh kami. Kamu hanya tahu menghalang-halangi kami. Kamu hanya tahu menghancur-hancurkan kami. Kamu hanya tahu menghancur-hancurkan demokrasi,” kata pencuri suara keempat dengan nada marah dan benci.
Pak Budi tidak takut dan tidak mundur. Ia tetap berdiri dan berbicara. Ia tetap berani dan berjuang. Ia tetap peduli dan bertanggung jawab.
“Kamu semua adalah pencuri suara. Kamu semua adalah penipu rakyat. Kamu semua adalah pengkhianat bangsa. Kamu semua adalah musuh demokrasi. Kamu semua adalah musuh Indonesia,” kata Pak Budi dengan suara keras dan tegas.
“Kamu semua tidak punya malu dan tidak punya hati. Kamu semua tidak punya nurani dan tidak punya rasa. Kamu semua tidak punya moral dan tidak punya etika. Kamu semua tidak punya visi dan tidak punya misi. Kamu semua tidak punya program dan tidak punya solusi. Kamu semua tidak punya apa-apa selain uang dan kekuasaan,” kata Pak Budi dengan suara tinggi dan keras.
“Kamu semua tidak layak untuk menjadi wakil rakyat. Kamu semua tidak layak untuk menjadi pemimpin bangsa. Kamu semua tidak layak untuk menjadi bagian dari Indonesia. Kamu semua harus dihukum dan harus diadili. Kamu semua harus diusir dan harus disingkirkan. Kamu semua harus dihapus dan harus dilenyapkan,” kata Pak Budi dengan suara nyaring dan lantang.
Pak Budi tidak sendirian dan tidak sepi. Ada orang-orang yang mendengar suaranya. Ada orang-orang yang melihat aksinya. Ada orang-orang yang mengerti maksudnya. Ada orang-orang yang setuju dengan tujuannya. Ada orang-orang yang ikut dengan gerakannya. Ada orang-orang yang bersama dengan perjuangannya.
Orang-orang itu adalah warga kampung Bu Mariye. Mereka adalah orang-orang yang juga kehilangan suaranya. Mereka adalah orang-orang yang juga dicuri suaranya. Mereka adalah orang-orang yang juga ditipu dan dibodohi. Mereka adalah orang-orang yang juga menjual harga diri dan martabatnya. Mereka adalah orang-orang yang juga mengkhianati prinsip dan keyakinannya.
Orang-orang itu adalah orang-orang yang sadar dan menyesal. Mereka sadar bahwa mereka telah salah. Mereka menyesal bahwa mereka telah bodoh. Mereka sadar bahwa mereka telah kehilangan suaranya. Mereka menyesal bahwa mereka telah dicuri suaranya. Mereka sadar bahwa mereka telah menjual Indonesia. Mereka menyesal bahwa mereka telah mengkhianati Indonesia.
Orang-orang itu adalah orang-orang yang ingin berubah dan memperbaiki. Mereka ingin berubah menjadi lebih baik. Mereka ingin memperbaiki kesalahan mereka. Mereka ingin berubah menjadi lebih pintar. Mereka ingin memperbaiki pilihan mereka. Mereka ingin berubah menjadi lebih cinta. Mereka ingin memperbaiki Indonesia.
Orang-orang itu pun keluar dari rumah-rumah mereka. Mereka berbondong-bondong menuju tempat Pak Budi. Mereka beramai-ramai mendukung Pak Budi
Mereka beramai-ramai mendukung Pak Budi. Mereka berteriak-teriak menyuarakan Pak Budi. Mereka bersorak-sorak menegaskan Pak Budi.
“Kami bersama Pak Budi! Kami bersama Pak Budi! Kami bersama Pak Budi!” teriak mereka dengan suara kompak dan lantang.
