Udin segera melihat pada HP sang kiai. Ada sebuah file yang terlampir di aplikasi WA-nya. Udin juga tak sengaja membaca sang pengirim. Dari seorang wartawan sebuah harian, dan satunya lagi dari seorang perwira kepolisian. Tampaknya tebakan Udin tak salah, hatinya sedikit berbangga.
Setelah semua perintah kiainya terlaksana Udin pamit. Namun dengan rasa penasaran setelah membuka lampiran dari wartawan tadi masih hinggap didadanya. Meskipun pada akhirnya pemuda itu memilih untuk melupakannya.

Keesokan harinya banyak sekalli warga yang berkumpul di teras ndalem. Udin yang telah siap untuk dinas mengangkut padi yang akan diselep merasa bingung. Karena tempat gabah tak terlalu jauh dari teras, sekali lagi telinganya yang bagai kelinci mencuri informasi.
“Bagaimana ini Kiai, katanya rumah akan ada penggusuran di desa ini.”
“Hmm… dari mana kalian tahu.”
“Itu sudah jadi rumor lama Kiai, bahkan rumah Lek Jo sudah disatroni preman, suruh jual ke yang punya proyek. Dengan harga murah lagi!”
Udin yang hanya sepatah-sepatah mendengar pembicaraan mereka hanya bergumam. “Ternyata benar isu yang ada di warung.”
Setelah mengangkut semua gabah yang ada di gudang, Udin tak lagi bisa mengulik pembicaraan warga dan kiai-nya. Rasa penasaran yang kemarin masih bersarang. Tiga hari berlalu sejak kejadian-kejadian itu. Udin kembali dengan teh hangatnya duduk di warung bersama koran kesukaannya. Dan lagi-lagi telinganya mencuri suatu kabar.
“Yang bener kamu Jo?!”
“Iya, setelah kemarin para warga soan, besoknya tanahnya dibeli dua kali lipat dari harga pemborong. Saat ditanya lagi sama para warga, Kiai cuma bilang gini, ‘Wes gak apa-apa, ini suara dari langit yang bilang,’ gitu,” logat dan gerakan Lek Jo yang menirukan Kiai Imam.
Beberapa hari berselang dari kejadian itu, ada pengumuman yang disampaikan oleh Kiai Imam setelah maghrib. Sebelum kejadian berselang beliau berpesan untuk para santri menetap sejenak pada tempatnya masing-masing. Para santri sempat kebingungan karena Pak Kiai cukup lama terdiam menghadap kiblat. Para santri sedikit gusar.
“Kita akan melakukan puasa selama sebulan terakhir. Hingga mendekati Ramadan, ini bukan sebuah keharusan. Bila yang mau silakan, bila yang tidak juga silakan.” Setelah pengumuman yang singkat itu sang junjungan kembali menuju rumahnya.
Udin lagi-lagi dibuat penasaran dengan apa yang diinginkan sang kiai. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba menetapkan ketentuan. Namun menurutnya memang para pemuka agama selalu sedikit nyeleneh dalam mengambil keputusan. Namun pada akhirnya akan menuai kabar baik.
Hingga akhir puasa santri, lahan luas yang telah dibeli Pak Kiai tak kunjung digarap. Padahal musim penghujan segera berakhir, dan itu biasanya menjadi kabar buruk bagi para petani jika tak memulai tanam. Namu, Kiai Imam masih belum memperbolehkan para santri untuk menggarapnya. Padahal beberapa sesepuh karib Kiai Imam juga sudah berulang kali mengingatkan. Namun seolah mempunyai jalan pemikiran sendiri, beliau tetap teguh pada pendapatnya.
