“Santai saja kalau sama aku. Yaudah aku berangkat. Tunggu di sini.”
Sarjiman kembali berburu makanan. Kali ini bukan di toko kelontong milik istri Wagio. Ia merasa bosan setelah tiga belas kali di sana. Malam ini, Sarjiman mengambil satu ekor kambing di kandang Wagio. Ia langsung menyembelihnya di tempat, dan memotongnya kecil-kecil.

“Man, apaan yang kamu bawa?” tanya Wagio terkaget-kaget.
“Ini daging bebek utuh. Malam ini kamu akan makan yang lebih enak dari pada malam-malam sebelumya,” ucap Sarjiman.
“Kamu tunggu di sini, Man. Aku ambil beras dan bumbu di rumah.”
Wagio pulang dan memanggil istrinya buat menikmati bebek bersama. Setiba di posko, Sarjiman masih berada di luar. Istri Wagio terlihat sangat senang, karena akan menikmati daging bebek kesukaannya. Mereka lama menunggu Sarjiman yang tak kunjung datang. Tanpa terduga istri Wagio mengambil daging setakar satu ekor bebek, dan dibawanya pulang tanpa sepengetahuan Sarjiman. Diam-diam Sarjiman memperhatikan tingkah mereka dari kejauhan. Sarjiman sangat tidak menyangka melihatnya.
“Sendirian. Mana istrinya?” tanya Sarjiman dengan muka santai setelah mendekat ke posko.
“Dia tidak mau datang ke sini, katanya jika malam dia penakut.”
“Langsung kita eksekusi saja”
***
“Man, kenapa aku tak enak badan begini ya? Aku pulang duluan,” kata Wagio.
“Beh! Kenapa kamu?”
Wagio pulang sendirian menembus malam. Sarjiman mempersilakan Wagio pulang lebih awal. Setelah tiba di rumahnya Wagio baru ingat, ia memiliki riwayat darah tinggi, begitu juga dengan istrinya. Padahal, keduanya begitu banyak memakan daging kambing. Sangat disayangkan, mereka terlambat diselamatkan.
