Pada malam-malam yang menggigil
dalam sidang paripurna,
seorang santri membuka mushaf
di antara gelas-gelas kosong
dengan meja yang mencium pekat bau suap.
Ia membaca pelan:
wa la takhshaun-nāsa wakhshauni.
sementara mikrofon masih sibuk
menjaga kepentingan
yang tak pernah sampai ke dusun-dusun
di pinggir republik.

Di luar, azan terus berkumandang
tapi tak satu pun keputusan
diambil dengan wudhu.
DOA YANG TAK DITAMPUNG NEGARA
Di atas sajadah lusuh
seorang nelayan menadah langit
bukan untuk hujan
tapi untuk arah pulang
yang tak tergadai oleh reklamasi.
Ia berdoa tanpa mikrofon
dan doanya tak pernah dicatat dalam pidato resmi.
Tapi angin mendengarnya
dan laut pun memberi jalan pulang
meski tanpa subsidi.
NASKAH YANG TAK SELESAI DITULIS
Di perpustakaan tua itu
tinggal selembar catatan berbahasa Arab-Melayu
dengan tinta yang retak
dan jejak tangan yang pernah menolak penjajah
atas nama agama
dan kehormatan ladang garapan.
Tapi naskah itu terhenti
ketika peluru menembus dada penyalin
dan rumahnya dibakar
oleh sesama muslim
yang mencintai jabatan
lebih dari makna laa ilaaha illallah.
HALAQAH DI LORONG PASAR

👍💡