SULUK KEKUASAAN

Mereka duduk melingkar
bukan di surau
tapi di lorong pasar,
berbagi ayat dan harga cabai.

Tak ada sorban putih
hanya kerudung lusuh dan celana yang digulung karena becek
Tapi suara yang terdengar
jauh lebih jujur daripada mikrofon tanpa kabel dari pemerintah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meski ramai, lahir makna tulus; upaya kecil agar kalimat-kalimat Tuhan tidak disapu promo diskon barang elektronik atau sembako untuk kebutuhan sehari-hari.

Di sana,
agama tumbuh dalam keterbatasan—
seperti akar yang memecah aspal
tanpa perlu permisi.

PETA DARI DADA LELUHUR 

Tak semua garis batas lahir dari perjanjian
Ada yang tumbuh dari doa
dan keringat yang membasahi mata.

Di desa-desa yang tak terdata peta digital
seseorang— yang usianya telah diperhitungkan masa— menunjuk arah mata angin
bukan dengan kompas,
melainkan dengan nyanyian burung
dan lekuk bekas tapak kuda perang.

Ia berkata:
di tanah ini pernah tumbuh mimpi
yang tak sempat dibukukan
karena penjajah datang lebih dulu
dari penerbit.

Sumber ilustrasi: bentarabudaya.com.

One Reply to “SULUK KEKUASAAN”

Tinggalkan Balasan