Saya bukan ahli tafsir. Saya bahkan belum tentu lulus ujian tafsir dasar. Namun saya tak ingin terus larut dalam kefakiran ilmu. Maka sebisa mungkin saya belajar—dan salah satu cara belajar saya adalah: menulis puisi.
Saya sadar, dunia puisi yang saya masuki hari ini adalah dunia yang dahulu Bapak geluti, dengan kesungguhan yang jauh lebih dalam dari sekadar ingin tampil di panggung-panggung kecil atau berseliweran di unggahan IG Story.

Saya kadang merasa menjadi penyair. Tapi sejujurnya, sering kali saya hanya sedang mengukuhkan gengsi, bukan menggali esensi. Sedih, tapi nyata.
Bapak Dipo, puisimu mungkin tak sebanyak karya-karya generasimu. Namun justru dari bait-baitmu yang tak banyak itu, dunia seperti terbuka. Ada kabar dari langit. Ada bisik-bisik dari ujung zaman. Dan semua terasa dekat. Puisi-puisimu tidak berangkat dari sekadar rasa, tapi dari sumber pengetahuan sejati—dari Sang Pemilik Ilmu, dari Yang Mencipta segalanya.
Terus terang, saya tidak banyak tahu tentang Bapak. Salah satu buku favorit saya adalah karya Bapak Yuk, Menulis Cerpen—panduan yang sederhana tapi menampar lembut: “Sudah nulis belum hari ini?”
Pengetahuan saya tentang Bapak hanyalah seperti kilau damar di angkringan Kotagede: terang, tapi tidak menyala terus. Namun sering saya membayangkan, bagaimana para penulis masa itu—termasuk Bapak—menulis, berkesenian, dan berorganisasi, tanpa gawai, tanpa sinyal Wi-Fi, tanpa notifikasi yang menyela tiap lima menit.
Bayangkan saja, pertemuan zaman itu adalah pertemuan sungguhan—bukan sekadar saling tatap kamera di layar kecil. Konon, saat Bapak Dipo ngangkring di Kotagede atau Kauman bersama rekan-rekan seniman, itulah saat-saat hidup terasa sungguh hidup.
Bahkan Mustofa W. Hasyim pernah berkisah: betapa ia sering berjalan menyusuri Malioboro bersama penyair Ragil Suwarna Pragolapati, Linus Suryadi AG, dan Emha Ainun Nadjib—dalam tapa bisu, menggali ide dalam diam, dalam bahasa yang bersembunyi di sela napas.
Ah, andai zaman sekarang bisa sedikit lebih sunyi…
Ketika saya berada di Jogja (2005-2014), sesekali saya mencuri dengar obrolan para penyair dan seniman di Taman Budaya. Dari sana saya tahu: Bapak adalah sosok yang sangat peduli pada penulis muda. Jika ada naskah menjanjikan, Bapak tak segan mengirim surat—memberi catatan, saran, dan semangat. Mungkin pekerjaan ini terlihat “remeh”, tapi betapa mulianya.
Umbu Landu Paranggi pun begitu. Dan saya hanya bisa berharap, ada yang meneruskan semangat ini di zaman kita—meski bentuknya tak lagi surat, bisa jadi berupa DM Instagram atau komentar di Google Docs.
Bapak Dipo, sebelum saya benar-benar menutup surat ini, izinkan saya berbagi satu kisah yang (semoga) akan membuat Bapak tersenyum dari seberang sana.
