Cerpen-cerpen Bapak yang kini kita kenal dalam Zaman Perang diketik satu per satu oleh putra Bapak, Aulia Mohammad. Sumbernya? Rekaman suara Bapak sendiri saat membaca cerpen-cerpen yang dahulu disiarkan via Radio ABC Australia.
Bayangkan: mengetik ulang suara ayah sendiri, mendengar ulang masa lalu yang bersuara. Sunyi, tekun, dan—saya yakin—penuh cinta. Mesin ketik milik Bapak pun konon masih terawat. Dan beberapa naskah cerpen bersumber dari dokumen yang pernah disimpan oleh Ajip Rosidi. Begitulah, dari yang tercecer, akhirnya terkumpul dan menjadi warisan.

Selain Zaman Perang, tiga jilid lainnya juga terbit. Salah satunya berjudul Odah dan Cerita Lainnya—sederhana, jujur, dan hidup. Masih satu napas dengan jiwa penulisnya.
Oh, dan satu lagi: drama Iblis (1963)—drama yang mungkin bisa bikin setan merasa tidak enak hati. Sebab dua iblis dalam cerita itu gagal total menghadapi iman keluarga Nabi Ibrahim. Bukan sekadar naskah, tapi doa yang dibacakan lewat lakon.
Ah, maafkan saya, Bapak Dipo—kadang saya memang suka berlebih-lebihan dalam berkhayal. Termasuk ketika membayangkan naskah drama Iblis yang menceritakan kisah Nabi Ibrahim, yang menerima wahyu lewat untuk menyembelih anaknya, Ismail. Betapa menusuknya! Tapi saya paham, bukan soal membunuh melainkan soal cinta dan kepatuhan yang nyaris tak masuk akal dari seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Kadang, dalam khayalan saya yang cetek ini, muncul harapan: andaikan naskah drama berjudul Iblis itu—ya, karya Bapak yang penuh daya itu—dibacakan di hadapan para calon jemaah haji, atau bahkan di depan pejabat-pejabat yang mengurus segala urusan haji, barangkali mereka bisa merenung sejenak. Bahwa ada peristiwa agung di balik ibadah itu—ada pengorbanan yang tidak ringan, tidak instan, dan sungguh bukan tentang koper premium dan hotel bintang lima.
Siapa tahu, setelah itu, mereka tak lagi berpikir aneh-aneh soal biaya haji. Apalagi, duh… mohon ampun, Pak Dipo, apalagi sampai dikurangi dengan cara yang tidak halal. Iya, saya tahu itu kalimat yang agak getir. Tapi semoga getir itu bisa menyadarkan. Sebab drama Iblis, sebagaimana karya Bapak lainnya, tidak sedang bermain-main. Ia sedang menyentuh inti: iman dan nurani.
Drama Iblis itu pertama kali muncul di Budaja edisi Januari–Februari 1963, dan dipentaskan pada 25 September 1961, di gedung Chung Hwa Chung Hui, Yogyakarta. Dan dari sana, lahirlah Teater Muslim—tonggak yang tak hanya bersuara, tapi juga bersujud.
Demikian surat saya, Bapak Dipo. Mungkin suatu hari nanti saya akan menulis lagi—entah kepada Bapak, entah kepada siapa pun penyair yang bisa menggerakkan pikiran dan hati dalam kejujuran yang lirih namun menggelegar.
Terima kasih telah menjadi cahaya dalam gelap. Dan menjadi alasan mengapa surat ini ditulis.
Jakarta-Jogja, PP, 12 Juni 2025.
