Saya teringat, Bapak pernah berujar bahwa seorang seniman itu, sejatinya, orang yang terasing. Ia tak perlu diterima oleh masyarakat, karena karyanya justru harus melampaui kebiasaan, meresahkan, atau bahkan mengganggu kemapanan. Kebenaran, bagi Bapak, seringkali ditemukan dalam kegelisahan. Agaknya Bapak ini penganut paham, kalau semua orang nyaman, itu tandanya ada yang salah.
Pandangan ini selaras dengan apa yang Bapak tunjukkan dalam setiap karya, baik di panggung maupun di lembaran buku. Sastra, bagi Bapak, bukan sekadar pelipur lara atau penjelas realitas. Sastra adalah alat untuk “membikin kaget”, “mengganggu”, bahkan “memprovokasi” pemikiran. Ia tidak melulu harus indah, tidak harus nyaman dibaca, justru harus bisa menusuk, membuat orang berpikir ulang tentang apa yang mereka anggap benar. Ini sebuah keberanian, sebuah sikap hidup yang tercermin dalam setiap pementasan drama absurd atau narasi cerpen yang tak terduga. Mungkin kalau Bapak jadi dokter, pasti resepnya bikin pusing pasien.

Maka, bila dunia kesenian adalah ‘dharma’ dan hidup seorang seniman adalah mengasingkan diri demi ‘mengganggu’, tak ada jalan lain kecuali menjalaninya dengan keteguhan dan ketekunan. Dan di sinilah, Pak, saya menyukai bagian ini: saya menulis apa pun yang ingin saya tulis, tak peduli hasilnya jelek atau baik. Bapak sendiri, dengan segala produktivitasnya, tidak pernah berhenti mencipta. Ada semacam obsesi, dorongan tak tertahankan untuk terus “berulah” melalui kata-kata.
Bapak seolah mengajarkan, hidup itu adalah proses pencarian dan penemuan. Dan, bagi seorang penulis, proses itu terwujud dalam laku menulis itu sendiri. Entah dalam kondisi sedih maupun bahagia, saya tetap menulis. Tak peduli hasilnya jelek atau bagus. Menulis adalah jalan hidup, sebuah ‘dharma’ yang tak bisa ditawar.
Pak Putu Wijaya, kami tak sekadar terkesan dan ingin terus belajar sepulang dari kediaman Bapak malam itu. Lebih dari itu, kami merasa—yang barangkali belum seproduktif Bapak—kini semakin memantapkan hati untuk menjadikan kesenian, khususnya menulis, sebagai ‘dharma’ dalam hidup. Kami sadar, perjuangan ini takkan mudah, dan seringkali justru menempatkan kami dalam posisi terasing.
Namun, seperti yang Bapak ajarkan, mungkin di situlah letak kebenaran dan kebebasan sejati seorang kreator. Dan kalaupun kami terasing, setidaknya kami masih punya Bapak sebagai panutan ‘orang terasing’ yang sukses.
