Surat Kelima: Kepada Bapak Putu Wijaya

Kami kira Bapak mau bilang, “Wah, kalian ini kok sampai tahu rahasia saya punya puisi!” Ternyata malu, Pak. Malu yang memalukan, katanya. Kami jadi bertanya-tanya, jangan-jangan Bapak punya brankas rahasia yang isinya puisi-puisi ‘memalukan’ yang belum terbit.

Pengakuan jenaka Bapak atas puisi-puisi yang Bapak anggap “gagal” itu sontak mengundang tawa sebagian teman, sementara sebagian lain terdiam, barangkali merenung dalam hati, “Seorang Putu Wijaya yang sebegitu produktif dan berkualitas saja masih merasa karyanya ‘gagal’. Lantas, bagaimana dengan kami yang di luar ‘gelanggang’ ini, yang sering kali membanggakan satu-dua tulisan yang mungkin jauh dari kata baik?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertanyaan itu menggantung, memenuhi ruang batin kami. Mungkin kami harus mulai mengaku ‘gagal’ juga, Pak, siapa tahu nanti bisa sukses seperti Bapak.

Untuk sekadar diingat, publik memang lebih mengenal Putu Wijaya melalui novel, naskah drama, monolog, dan cerpen-cerpennya, ketimbang kumpulan puisinya yang berjudul Dadaku adalah Perisai (1973). Bahkan, tak banyak penulis—mungkin termasuk Bapak sendiri—yang tahu atau ingat bahwa Bapak pernah menulis puisi. Kiprah dan karya-karya Bapak telah diganjar berbagai penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Pak Putu, ada satu hal yang diam-diam menjadi perbincangan di antara kami sepulang dari sana: tentang kesenian sebagai ‘dharma’. Bapak malam itu menegaskan bahwa menulis dan berkesenian bukanlah semata profesi. Kesenian, dalam ajaran Hindu, adalah ‘dharma’, yakni jalan hidup yang mesti ditempuh setiap individu.

“Jadi, tidak bisa kesenian dan menulis dijadikan profesi,” begitu ucap Bapak. Ini sungguh pandangan yang dalam, Pak.

Tinggalkan Balasan