Sambil mendengar pembacaan biografimu oleh Angin Kamajaya, pengampu dan pendiri Semaan Puisi, saya membayangkan Pak Dar sedang duduk bersama Pak Kayam, Romo Mangun, dan Rendra. Ngangkring bersama di beranda surga di alam Barzah—ngobrolin puisi Indonesia yang dingin, dalam suasana politik Indonesia yang selalu hangat. Hangat dalam arti menghanguskan.
Sunyi di tengah keriuhan suara sumbang para politisi, yang lebih sering jalan-jalan dengan dalih kunjungan kerja—kerjanya siapa, hasilnya ke mana, Tuhan saja kadang geleng-geleng kepala menyaksikan politisi negerimu, Indonesia.

Padahal, kata Rendra dalam Kesaksian: Dengan puisi ini aku bersaksi // bahwa rakyat Indonesia belum merdeka. //Rakyat yang tanpa hak hukum // bukanlah rakyat yang merdeka.
Hak hukum yang tidak dilindungi // oleh lembaga pengadilan yang mandiri //adalah hukum yang ditulis di atas air // Bagaimana rakyat bisa merdeka // bila polisi menjadi abdi pemerintah // yang melindungi hak warga negara?
Bagaimana rakyat bisa disebut merdeka // bila birokrasi negara // tidak mengabdi kepada rakyat, // melainkan mengabdi kepada pemerintah yang berkuasa?
Bagaimana rakyat bisa merdeka // bila provinsi-provinsi // sekadar menjadi tanah jajahan pemerintah?
Eh, Pak Dar, mau tahu tidak, mereka itu suka ngobral janji lho. Bukankah yang diobral itu harusnya kebutuhan-kebutuhan pokok ya, Pak Dar?
Tapi, Pak Dar,
Apa pun yang Pak Dar obrolkan di surga sana tentang puisi masa kini, kami di sini tetap melanjutkan tawa dan perenungan. Kami ini bukan sepuluh pemuda harapan Bung Karno yang akan mengguncang dunia. Tapi sekumpulan anak muda yang bangga lahir di Indonesia—meski kadang bangga itu harus diselipi tawa getir. Setidaknya, kami bisa bergelak tawa membaca puisi-puisi Pak Dar, kolom-kolom Pak Kayam yang seperti ngobrol sambil nyeruput kopi, dan menjadi saksi diam atas keserakahan pemerintah lewat puisi-puisi WS Rendra.
Tentang cara kami bermunajat, Pak Dar,
