Kami punya ustaz-ustaz andal yang suaranya menggelegar ketika berdoa. Lebih keras dari toa kampanye. Apalagi ketika ceramah—materinya kadang seperti sinetron religi: penuh penghakiman. Surga, katanya, hanya untuk mereka yang sebarisan. Yang tak sejalan, ya silakan antre di neraka.
Tapi, bolehkah saya titip satu pertanyaan kecil, Pak Dar?

Bisakah ditanyakan kepada malaikat penjaga surga, benarkah tutorial masuk surga sesimpel itu… atau justru lebih absurd dari iklan sabun cuci? Soalnya, di sini ada yang bilang—dan dengan sangat yakin pula—bahwa “siapa pun yang beda ideologi, beda pilihan politik, atau bahkan beda cara mencintai tanah air, tidak akan masuk surga.” Lho, jadi surga itu semacam klub eksklusif dengan dress code ideologi tertentu? Kalau begitu, Plato, Gandhi, atau bahkan tetangga saya yang hobi menanam bayam di lahan sempit tapi ogah ikut ormas, bisa-bisa ditolak di depan gerbang surga.
Kalau benar begitu, Pak Dar,
Izinkan malam ini kami tetap berdoa dengan doamu. Doa yang tidak memilih-milih pendengar. Doa yang tulus, bahkan ketika diucapkan dengan logat medok, dengan sandal jepit, atau tanpa pernah viral di medsos:
MENGHADAP-MU PAGI INI
24 huruf
bersijingkat
membentuk semboyan-semboyan yang bijak
aku pun paham
bermula dari-Mu pula
lahir suara dan tanda
dan Kata
dan Aku
Serempak nyanyi
Serempak bersorak
Dan aku pun rebah!
Pak Dar,
Kuakhiri dulu surat ini. Izinkan pagi ini aku tertawa dan tersenyum, bukan karena tingkah lucu politikus atau pelawak yang lebih suka nyinyir daripada menghibur. Tapi karena puisi, dan karena kau—yang entah bagaimana, tetap terasa dekat, meskipun duduk di bangku panjang surga, bersama para penyair yang kini menulis dengan tinta cahaya.
Salam dari Kali Bedog, yang airnya tidak lagi jernih dan pohon-pohon di sekitar penuh dengan foto-foto politisi yang mengobral janji.
