Surat Ketujuh: Kepada Umbu Landu Paranggi (10 Agustus 1943-6 April 2021)

Kau pasti bingung kalau melihat lihat penyair sekarang: bicara tentang makna sambil pasang tarif. Bahkan di antara kami ada yang menyebut puisinya “bernapas”, padahal baru ditulis lima menit lalu, langsung diunggah, dan besok sudah lupa. Dunia sastra sekarang seperti warung kopi kekinian: estetik, tapi kadang kopinya hambar.

Saya tidak tahu apakah surat ini akan sampai. Tapi saya tahu, kau tidak pernah menunggu surat. Kau lebih percaya pada gumaman, pada bait yang ditulis di kertas warung, pada puisi yang dibaca sambil menanak nasi. Kau percaya pada yang kecil, yang pelan, yang tidak ingin disebut puisi tapi tetap menyembuhkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Umbu, kalau kau masih mendengar, dari tempat yang tidak membutuhkan mikrofon, izinkan aku belajar menulis dengan malu. Karena malu adalah bentuk paling awal dari kejujuran. Dan kejujuran, Umbu, adalah hal yang paling langka sekarang—bahkan di dunia sastra.

Ah, Umbu, izinkan saya menutup surat ini dengan mengutip puisimu: “Melodia”

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan
Karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan
Baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara luar sana
Sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja

Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara
Dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya
Membukakan diri, bergumul dan merayu hari-hari tergesa berlalu
Meniup seluruh usia, mengitari jarak dalam gempuran waktu

Takkan jemu-jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi
Dalam kerja berlumur suka duka, hikmah pengertian melipur damai
Begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal, penanggalan penuh coretan
Selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam deras bujukan

Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana
Di ruang kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan berjiwa
Kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian
Yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan

Tinggalkan Balasan