Ah, Umbu, entah apa maksudmu, setiap jam satu dini hari kau meneleponku dan selalu bilang, “Haram hukumnya penyair tidur di hari Sabtu! Hei bajingan, penyair! Puisi yang prosa, prosa yang puisi!” Kalimat itu kau ulang seperti ritual.
Aku yang mendengarnya tidak tahu harus tertawa atau merenung. Kau bicara seperti sedang mengutuk, tapi juga seperti sedang menyelamatkan. Dan aku, yang sok paham sastra, hanya bisa mengangguk, lalu menulis puisi yang kau abaikan.

Sungguh aku menyesal, Umbu. Tak sempat memenuhi janjiku dan permintaanmu agar dikirimi pakaian khas Madura—yang latar putih dan sabuk besan warna biru daun. Lalu kau tambahkan, “Jangan lupa, bebek khas Madura. Yang wangi bahunya.”
Aku tidak tahu apakah kau bercanda, atau sedang merancang puisi baru. Tapi aku tahu, permintaan itu bukan soal pakaian. Itu soal ingatan. Soal akar. Soal tubuh puisi yang tidak bisa ditulis dengan diksi saja.
Umbu, di zaman ini, penyair sibuk bikin konten. Bait-bait dijadikan caption, puisi dijadikan alat branding. Kau pasti bingung kalau melihat penyair sekarang: lebih sering buka TikTok daripada membuka buku. Mereka bicara tentang puisi sambil jualan kaus, bicara tentang sunyi sambil rebutan panggung.
Kau tidak pernah jadi juri lomba, tidak pernah buka pelatihan menulis puisi, tidak pernah bikin kelas daring berbayar. Tapi kau melahirkan penyair. Bukan dari kurikulum, tapi dari kesetiaan. Kau tidak pernah mengoreksi, tidak pernah memuji, tidak pernah menggurui. Tapi kami belajar. Belajar dari cara kau berjalan, dari cara kau tidak bicara.
Saya dengar, kau dulu suka duduk di bangku taman, mendengarkan anak-anak muda membaca puisi. Kau tidak tepuk tangan. Kau tidak angkat alis. Tapi mereka tahu: kau mendengar. Dan dari mendengar itu, mereka tumbuh.
Umbu, di zaman ini, sebagai penyair aku sibuk bikin konten. Puisi dijadikan caption, bait-bait dipakai untuk endorse produk herbal. Ada yang menulis puisi sambil live streaming, lengkap dengan filter wajah dan efek bunga-bunga.
