Surat Pertama: Kepada Chairil (26 Juli 1922–28 April 1949)

Tahukah kau, Chairil, kutipanmu itu kini dijadikan meme. Kau dijadikan ikon. Tapi seringkali, yang menyebut namamu paling keras adalah mereka yang tak pernah paham betapa sunyi hidup menulis dengan jujur. Mereka pikir jadi penyair itu soal diksi dan publikasi. Padahal kau—kau menggadaikan napas demi bait. Lapar demi larik. Tak tidur demi satu frasa yang bernas.

Kini, saat puisi dijadikan lomba dan alat penggalangan dana, aku rindu caramu menulis: seperti menyalak, seperti jatuh cinta, seperti hendak mati.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kau tak sempurna. Tapi justru karena itu, kau jadi sangat—terlalu—hidup. Dan itulah mengapa, Chairil, aku ingin kau tahu: masih ada yang merindukan kata-katamu. Bukan hanya puisimu. Tapi juga keberanianmu. Keteguhanmu untuk berdiri sendiri, bahkan di jalan yang sepi.

Chairil, malam ini, kami generasi muda berkumpul di sini tidak hanya untuk membaca puisimu. Di sini kami mengingat kembali; spirit dan tekadmu penuh dalam menulis puisi, mengenang betapa kerasnya kamu berdebat dengan HB Jassin, hanya karena satu kata, satu frase.

Malam ini, Chairil, izinkan kami mengambil satu bagian dari perjalanan hidupmu, berpihak pada yang lemah, keras kepada diri sendiri, tapi sekaligus selalu merekahkan senyum kepada orang lain. Izinkan kami mencontoh satu bagian kecil dari caramu berproses, menulis puisi: menempa diri—baik sebagai manusia maupun sebagai penyair.

Chairil, akhirnya saya mesti mengakhiri surat kepadamu, bukan karena saya merasa tak sepadan, sungkan, apalagi merasa tidak pantas bercakap-cakap lebih lama dan akrab denganmu, Sang Maestro. Sungguh bukan karena itu semua. Jadi, mari kita padami unggun api pertemuan ini. Saya tak mau terjebak dan berlama-lama merangkai kata-kata di dinding buta. Bukan pula saya tergoda dengan bunyi notifikasi yang masuk dalam instagram hingga dalam berbaring tak sadar sebagaimana bait puisimu dalam “Suara Malam” itu.

Surat ini saya akhiri semata-mata saya rindu dengan karya, sosok, dan jejak seorang penyair penulis puitisasi Al-Qur’an dengan judul Pekabaran, siapa lagi kalau bukan Mohammad Diponegoro. Mungkin kalimat judul puisimu, Chairil, “Pemeluk Teguh”, lebih pas untuk penyair yang oleh orang-orang terdekatnya lebih akrab dipanggil Pak Dipo ini.

Depok Terluar, 28 April 2025.

Tinggalkan Balasan