Surat Pertama: Kepada Chairil (26 Juli 1922–28 April 1949)

Tapi, Chairil, lihat sekarang—banyak yang tampil necis, pakai jas kebesaran dan sepatu selicin pomade, ngomongin moral, tapi lupa—otaknya tak pernah cuti dari merugikan rakyat dan negara. Diam seribu pohon waktu hutan dibabat habis.

Tapi yang paling membuat saya tercekat, adalah kabar itu: kabar yang ingin dirahasiakan tapi temanmu yang tahu diam-diam menyebarkan. Katanya, kau kerap masuk ke kompleks pelacuran. Bukan untuk bersetubuh. Tapi untuk memberi. Honorarium puisimu, yang entah cukup untuk beli nasi bungkus atau tidak, kau serahkan kepada para perempuan yang dunia sebut hina.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Karena mereka nelangsa,” katamu. “Karena tak ada yang melindungi mereka, jadi biar aku jadi bapak sekaligus tameng mereka.”

Ya, Chairil, honor puisimu kau berikan kepada mereka yang lebih membutuhkan, tapi di saat bersamaan kau datang diam-diam ke rumah HB Jassin, kemudian dengan tanpa permisi, kau bilang kepada istri sang Paus Sastra itu, “Aku lapar. Ada makanan apa di dapur?”

Chairil, penyair sekarang kalau masuk kompleks seperti itu, niatnya ngonten. Kau masuk dengan belas kasih. Yang lain sibuk cari pengakuan, kau sibuk menebar keberpihakan.

Kadang saya bingung: kau ini penyair, atau pahlawan bertubuh ringkih? Kau maki-maki dunia dalam puisi, tapi diam-diam menyeka luka orang lain. Kau hajar moral palsu, tapi menyayangi mereka yang terinjak. Mungkin karena umurmu pendek, kau tak sempat berkompromi. Tak sempat jadi tua dan sinis. Kau meledak sebelum mapan. Pergi sebelum dijinakkan.

Sekarang zaman sudah berubah, Chairil, Banyak yang menulis puisi, tapi sedikit yang menggigit. Banyak yang merangkai kata, tapi hanya untuk digunakan sebagai pelampiasan rasa. Puisi tidak tumbuh sebagai ruang kesadaran, puisi tidak tumbuh sebagai media untuk berkontemplasi apalagi menyuarakan kebenaran. Tidak sedikit, puisi ditulis hanya untuk kebutuhan eksistensi.

Dulu kau menulis: “Yang bukan penyair, tak boleh ambil bagian.” Sekarang, semua ingin ambil bagian—meski belum tentu tahu apa yang sedang mereka perebutkan.

Tinggalkan Balasan