SURGA (YANG) MENGINTIP MALU-MALU DI CELAH KAKI IBU

Selepas cuci muka,
ia menemukan rona kesedihan
terpancar di wajah para seniman
Ketika bumi begitu tabah memelihara pandemi beserta
segala spekulasi tentangnya;

membatasi gerak kewarasan yang menggila
di poros semesta yang kian berantakan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tapi Ibu berkata,
Bahwa tak pernah ada seniman dalam lingkaran;
mereka terjerat tapi terbebas.
Mengakrabi alam sebagai karib paling disayang

Hingga segala hal justru menjadi muara
atas taruhan keindahan
“Sudah, berhentilah berusaha melukis wajah seniman.
Bahkan dalam situasi paling pelik sekalipun,”
ujar Ibu.

Wajah seniman akan selalu gagal untuk dilukiskan
sebab di antara pepohonan, tebing curam, atau pada samudera luas
wajahnya tersembunyi begitu elok
; alam menjadi kanvas
Wajah cerianya dalam balutan waras.
Semestanya kedap suara; pada tangannya
seni menjadi begitu nyata terbentang.

Namun sesekali para seniman menjadi waras
dengan mengkhawatirkan kehidupannya.

Dan sudahilah melukis wajah seniman;
semesta kita dan mereka dibatasi oleh jembatan
kewarasan –dengan sudut pandang yang berbeda.

CERITA PADA PEMUDA YANG MEMBAWA NEGARANYA

Tinggalkan Balasan