Syahrastani dan Ensiklopedi Toleransi Islam

Di sebuah lorong waktu intelektual Islam abad ke-6 Hijriyah, terdapat seorang pemikir yang berjalan di atas jalan sunyi, memikul beban wacana yang tak ringan: mengenali keragaman pikiran umat manusia tanpa menyulut kebencian.

Ia bukan sekadar ahli kalam, tapi penjelajah kesadaran kolektif umat. Namanya: Abu al-Fath Muhammad bin Abdul Karim al-Syahrastani (w. 1153 M), dan magnum opus-nya berjudul Al-Milal wa al-Nihal. k

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kitab yang bagi banyak santri klasik hanyalah daftar nama-nama sekte dan aliran. Padahal, ia adalah ensiklopedia keberagaman iman, ditulis dengan nalar yang jernih dan akhlak ilmiah yang luhur. 

Membaca Al-Milal wa al-Nihal bukan hanya seperti menelusuri museum sejarah kepercayaan, tetapi juga seperti membuka ruang perenungan tentang bagaimana manusia, sejak zaman dulu, selalu mencoba memahami Tuhan dari banyak jalan, dengan banyak bahasa.

Dan Syahrastani, dengan kejernihan akalnya, tidak mencoba memadamkan satu jalan untuk menghidupkan jalan lain. Ia tidak merasa harus membela agamanya dengan cara mencacatkan agama orang lain. Sebaliknya, ia seperti menulis dengan pena yang dicelupkan ke dalam sumur kasih sayang dan ilmu yang dalam. 

Kitab yang Tak Menghakimi 

Dalam mukadimahnya yang sangat terkenal, Syahrastani langsung menetapkan posisinya sebagai pengamat, bukan penghukum. Ia menyatakan: 

“ما قصدت فيه إلى طعنٍ على ملة، ولا قدحٍ في نحلة، وإنما قصدت إليه بيان ما هو عليه كل ملة ونحلة، على ما وجدته في كتبهم، ونقلته من ألسنة ناقليهم.”

Artinya: “Aku tidak bermaksud mencela agama apa pun atau mencaci sekte apa pun. Tujuanku hanyalah menjelaskan bagaimana keadaan setiap agama dan sekte, sebagaimana yang kudapati dalam buku-buku mereka dan yang kudengar dari para penyampainya.” 

Ini bukan sekadar kalimat pembuka, tapi adalah mantra etika ilmiah. Di zaman ketika perdebatan teologis sering berubah menjadi konflik berdarah, Syahrastani justru hadir dengan pena sejuk yang menggambarkan keragaman sebagai lanskap pemikiran, bukan sebagai arena peperangan. 

Keragaman: Cermin Intelektual 

Syahrastani menyusun kitab ini seperti seorang arsitek pemikiran. Ia membagi seluruh keyakinan umat manusia dalam dua kategori utama: al-milal (agama-agama besar seperti Islam, Kristen, Yahudi, Majusi, dan Sabiah), dan al-nihal (mazhab dan sekte dalam dan luar agama wahyu). Ia mencatat nama-nama besar: Muktazilah, Jabariyyah, Qadariyyah, Khawarij, Rafidhah, Ismailiyyah, bahkan kelompok-kelompok filsuf Yunani seperti para pengikut Aristoteles dan Pythagoras. 

Yang mencengangkan adalah bagaimana Syahrastani tetap memosisikan dirinya dalam jarak yang seimbang terhadap semua kelompok tersebut. Ia bahkan menuliskan struktur logika mereka, menyebutkan tokoh-tokohnya, dan mencoba memahami mengapa keyakinan itu muncul. 

Tentang Muktazilah, misalnya, ia menulis dengan cermat: 

Tinggalkan Balasan