Doa senantiasa dipanjatkan, harapan pun selalu dimunajatkan. Tentu, di samping doa juga usaha yang tidak kenal lelah. Karena takdir itu bersamaan dengan usaha kita. Semakin kita berusaha dan berjuang demi bangsa, maka pada saat itu pula takdir kebaikan itu akan menyertainya. Doa dan usaha adalah dua aspek yang saling berkontribusi demi kesuksesan kita dalam berkehidupan.
Berharap bahwa kemerdekaan itu kekal dan selamanya. Tidak berbatas waktu, karena kebebasan untuk mengatur diri sendiri adalah hak asasi manusia. Kita tidak boleh menjadi pecundang di negeri kita sendiri. Karena kita mampu untuk menentukan nasib baik diri kita sendiri.

وَقَدْ خَابَ العَدَى لَهُمْ خَسَارًا # بِمَا كَانُوْا تَمَنَّوْا بِالْأَمَانِى
(Sungguh telah lenyap musuh yang merugikan kita, karena cita-cita kalian adalah untuk keamanan, kemerdekaan).
Dengan pergerakan dan perjuangan, bergerak dalam persatuan dan berjuang dengan keteguhan bersama, maka kemerdekaan itu menjadi nyata. Perlu dipahami oleh generasi muda, bahwa kemerdekaan yang didapat tidak dengan mudah dan gampang. Akan tetapi diperlukan aliran darah, air mata, bahkan nyawa pun ikut dikorbankan. Oleh karena itu, bagi para generasi penerus diperlukan semangat membangun demi tegaknya bangsa yang bermartabat dan negara yang memiliki marwah di hadapan bangsa lainnya.
Musuh kasat mata (fisik) memang telah tiada, tetapi musuh nonfisik, seperti penjajahan etik, pengebirian logika, dan kolonialisme ekonomi perlu mendapat perhatian yang serius. Musuh dalam selimut sering kali menjadi bumerang dan berakibat fatal.
أٌعَادَ عَلَى مَعَالِيْكَ المُعِيْدُ # مِآتِ أَغُسْطُسْ، دُمْ بِالْأَمَانِ
(Semoga Allah Yang Mahatahu menempatkanmu pada tempat yang paling tinggi, hingga beratus Agustus berulang dengan aman/makmur).
Berulangnya Agustus adalah memori yang tidak akan pernah lekang oleh panas dan tidak akan lapuk oleh hujan. Mengingatkan kita pada para pahlawan, pejuang yang rela berkorban demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Semangat Agustus (baca: kemerdekaan) harus terus digemakan. Agar kita tetap dalam kewaspadaan. Supaya kita teguh untuk membangun bangsa ke depan dengan persatuan dan kesatuan. Mari kita tegakkan suasana Agustus dengan kibaran merah-putih, menembus angkasa di sepanjang kehidupan.
وَعِشْ وَاهْنَأْ وَفُزْ بِالْعِزِّ دَوْمًا # إِلَى الآبَادِ تَهْدِى بالتهانى
(Dan hiduplah, berbahagialah, bersenanglah, dengan kegembiraan selamanya, hingga berabad-abad lamanya, Engkau senantiasa dalam hidayah dan kemakmuran).
Adalah sebuah motivasi dari generasi awal (KH Muhammad Ilyas) kepada generasi muda agar hidup bahagia dengan kegembiraan yang paling purna. Salah satu kebahagiaan itu adalah bagaimana mengisi kemerdekaan dengan amal kebaikan, perbuatan bermanfaat di dunia dan di akhirat.
Syair Kemerdekaan tersebut sebagai manifesto bahwa Kiai Ilyas memiliki sikap nasionalisme yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Nasionalisme adalah epos karakter yang harus ditekankan kepada setiap bangsa, karena cinta tanah air merupakan kewajiban setiap warga negara.
Syair Kemerdekaan Kiai Ilyas ini hanya sebagian kecil saja dari sebagian cinta Beliau terhadap Indonesia. Tentu masih banyak lagi nilai-nilai karakter kebangsaan yang Beliau miliki dan tidak terekam seperti dalam syair ini.
