Syarifah Nafisah menempuh pendidikan sekolah dasar di SDN Blindungan 1 dan melanjutkan ke SMP 1 Bondowoso. Terbiasa untuk selalu berpartisipasi dalam setiap kegiatan, ia tertarik dengan kegiatan ekstrakulikuler seperti qiroah ataupun kasidah. Bahkan, untuk mengasah kemampuan dan mengisi waktu luang, ia juga pernah mengikuti seni tari.
Dengan beberapa pertimbangan, tidak genap tiga tahun di SMPN 1 Bondowoso, Syarifah Nafisah pindah ke SKP Jurusan Boga. Berkat restu dan saran ibunya, Syarifah Nafisah bisa menamatkan sekolahnya di SKP. Setelah itu, Syarifah Nafisah mondok Syarifah Nafisah mondok di Pondok Pesantren Islam Ash-Shiddiqi Putri (Ashri) Jember, Jawa Timur. Ia tergolong santri periode awal berdirinya Pondok Ashri. Usai mondok, Syarifah Nafisah kemudian merintis pendirian pondok pesantren di Bondowoso, yang diberi nama Pondok Pesantren Azzahro.

Bahkan, saking aktifnya, Syarifah Nafisah pernah menjadi penyiar radio di Ashri dengan nama samarannya itu Titi Sari. Kesaksian ini diceritakan oleh putranya dan adiknya, Ustaz Muhammad dan Ustaz Husein bin Hasan Barakwan ketika diwawancarai di Pondok Pesantren Azzahro pada 14 Juni 2023. Syarifah Nafisah termasuk santri kesayangan KH Abdul Chalim. Ketika KH Abdul Chalim atau mengisi pengajian, Syarifah Nafisah selalu diajak serta. Bahkan, Syarifah Nafisah sudah direstui atau didukung untuk mendirikan pondok pesantren ketika masih menjadi santri.
Lebih sering dipanggil ustazah Nafisah oleh santrinya, Syarifah Nafisah merupakan pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Azzahro di Kampung Arab, Bondowoso. Selama setengah abad atau 50 tahun, ia berjuang dan berkhidmat kepada umat demi kemajuan peradaban Islam di kalangan perempuan, khususnya di Kampung Arab Bondowoso.
Sebelum kembali ke kampung halaman sebab masih menjadi santri selama enam tahun, Syarifah Nafisah pernah mendapatkan mandat untuk membantu Ibu Nyai Muzayyanah di pondok. Kemudian, kurang lebih pada tahun 1971 Syarifah Nafisah kembali ke Kampung Arab Bondowoso dan meneruskan mimpi yang diharapkan oleh orang tuanya untuk dapat memberikan manfaat terhadap sesama.
Perjalanan panjang sosok Syarifah Nafisah membersamai umat dimulai dengan menggelar majelis taklim khusus perempuan di tahun 1971. Bertujuan awal untuk mengisi produktivitas kalangan perempuan muslim di Kampung Arab. Majelis taklim dijadikannya sebagai sarana diskusi ilmu pengetahuan agama Islam. Dari situ ada usulan agar majelis taklim diubah menjadi sebuah pondok pesantren khusus perempuan.
