Abu MUDI dikenal sebagai sosok ulama yang reformis bahkan revolusioner. Hal ini tak lepas dari perannya dalam pendirian Institut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah Samalanga, yang berdiri tak jauh dari Dayah Ma’had Ulum Diniyah Islamiah (MUDI) Samalanga yang berada di bawah naungan Yayasan Al-Aziziyah.
Awalnya, pendirian IAI) Al-Aziziyah Samalanga memantik pro-kontra karena mengusung konsep pendidikan yang mengintegrasikan ilmu di era digital. Saat ini, IAI) Al-Aziziyah tercatat sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi Islam di Nusantara yang berbasis “boarding school” (pemondokan) dan termasuk yang paling maju. Banyak orang tua menempatkan anaknya untuk dididik menjadi generasi yang andal di IAI Al-Aziziyah Samalanga.

IAI Al-Aziziyah Samalanga merupakan hasil ijtihad Abu MUDI yang juga seorang mursyid tarekat Naqsyabandiyah. Saat didirikan pada 2003, awalnya bernama STAI Al-Aziziyah. Saat itu Abu MUDI dikritik oleh banyak kalangan baik intern dayah MUDI sendiri maupun eksternal luar dayah, bahkan oleh kaum intelektual dayah yang telah menempuh pendidikan umum.
Ijtihad Al-Mursyid Abu MUDI ini bukanlah lahir secara tiba-tiba. Namun telah melalui musyawarah dengan masyaikh. Tujuannya menghadirkan konsep pendidikan sesuai perkembangan zaman. Namu begitu, Dayah dan IAI Al-Aziziyah tetap berjalan beriringan dan saling melengkapi, yang berkiblat kepada akhi kabir Dayah MUDI Mesjid Raya dalam aktivitas sehari-hari.
Catatan sejarah yang penulis perolah, sepanjang menjadi santri, guru juga mahasiswa serta dosen di lembaga Al-Aziziyah (Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan IAI Al-Aziziyah Samalanga), menyebutkan bahwa lahirnya STAI Al-Aziziyah Samalanga (Kini IAI Al-Aziziyah Samalanga) awalnya kerap menjadi polemik.
Mereka yang kontra ada alasan tersendiri, dengan menyebutkan masa Allayurham Abon Abdul Aziz Samalanga bahkan beliau benci kepada perkuliahan. Mereka ini kita istilahkan dengan “qaul qadim“. Sedangkan, mereka yang pro dan sependapat dengan Abu MUDI dikenal dengan “qaul jadid“. Abu MUDI berada di barisan ini.
Abu MUDI melihat realitas saat ini dengan problemnya. Ia melihat fenomena umat dan era globalisasi terus mengancam dekadensi moral dan akidah. Karena itu, menurutnya, generasi penerus itu tidak boleh melupakan kewajiban belajar agama sebagai fardhu ain sebagai kewajiban pokok dan pendidikan yang berkiblat kepada fardhu kifayahnya juga masih kemungkinan dapat ditempuh. Pendirian Al-Aziziyah tersebut dimaksudkan untuk menjawab tantangan zaman ini.
Sekokah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Aziziyah Samalanga resmi berubah status sebagai Institut Agama Islam Al-Aziziyah pada 2014. Kini lembaga pendidkan tersebut di bawah kepemimpin Teungku Muntasir A. Kadir yang juga menantu Al-Mukarram Abu MUDI. Kini, IAI Al-Aziziyah yang berlokasi di gampong Mideun Jok Samalanga, Bireuen perlahan terus berkembang pesat. Bermacam ragam terobosan telah dilakukan dan saban tahun mahasiswanya terus membeludak.

Banyak salah ketik,,,,