Sebagaimana kita tahu bahwa akhir dari tujuan yang hendak dicapai seorang sufi yaitu makrifah dan tauhid, dalam arti mengenal Tuhan secara lansung dan menenggelamkan dirinya dalam lautan keesaan-Nya yang bersifat mutlak melalui pengalaman pribadi, sehingga Tuhan tidak hanya dikenal melalui dalil-dalil akal ataupun pewartaan para Nabi.
Tapi apakah mungkin manusia dapat berhubungan secara langsung dengan Tuhan? Sedangkan, ada ayat Al-Quran yang menegaskan bahwa Allah hanya berbicara kepada makhluk lewat wahyu atau dari balik tabir, seperti yang dialami Musa yang jatuh pingsan saat melihat gunung hancur luluh setelah Tuhan menyatakan diri kepadanya? (Qs.7:142).

Sebagaimana dalam ajaran mistik pada agama-agama lain, dalam mistik Islam yang biasanya disebut tasawuf pun terdapat ajaran mengenai hakikat manusia dan tabiat kerohaniannya yang unik dan memberi sebuah landasan bagi kemungkinan tercapainya makrifah dan tauhid. Ajaran-ajaran semacam itu sudah ada dalam perbincangan para sufi abad ke-3 H, yaitu saat makrifah dan tauhid mulai menjadi pembicaraan mereka.
Dalam karya-karya Al-Banjari tidak ditemukan penjelasan terperinci mengenai konsep manusia, sebab pembahasannya banyak tercurahkan pada metode untuk ber-taqarrub, yaitu mendekatkan diri kepada Allah. Namun, kita masih tetap bisa menemukan mengenai ide-ide tersirat Al-Banjari yang berbicara tentang manusia.
Menurut al-Banjari dalam kitabnya Kanzal-Ma’rifah, disebutkan awal hakikat mengenal diri dimulai dengan mengenal hakikat asal-usul kejadian manusia dari Nur Muhammad. Namun sayang tidak dijumpai penjelasan lebih lanjut dari Al-Banjari dalam karya-karyanya yang berbicara tentang Nur Muhammad ini. Sehingga kita tidak bisa mengetahui apakah Al-Banjari lebih condong pada pendapat para ahli tasawuf ataukah lebih kepada pandangan para filsuf Islam.
Refrensi:
Dahlan, Bayani. Pemikiran Sufistik Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Yogyakarta: Pustaka Ulama. 2015.
