Syekh Musa, Sang Sufi Crossdresser

Ketika Syek Musa Sada Suhaq melakukan ibadah haji, ia mendengar bisikan spritiual yang mengurungkan niatnya untuk berziarah ke makam kanjeng Nabi di Madinah. Ia merasa dirinya tidak pantas dan telah melukai perasaan orang lain yang tak salah, yaitu para perempuan pekerja seks dan perempuan homeless di makam Syekh Nizam al-Din Awliya` beberapa waktu sebelum ia melakukan ibadah haji.

Dengan bisikan spritual tersebut justru membuat ia kembali ke India, tepatnya ke makam Syekh Nizam al-Din Awliya. Sesampainya di sana, ia kemudian mengenakan pakaian, berdandan, dan memakai perhiasan layaknya perempuan sembari menari di samping makam Syekh Nizam al-Din Awliya dengan niat penyesalan dan memohon maaf atas maki-maki dan cemoohannya tersebut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada saat melakukan tarian-tarian dan nyarian-nyanyian sang sufi merasakan pengalaman batin yang luar biasa. Ia merasa sedang menerima pencerahan ilahiah yang bermakna ia sedang menuju tingkatan makrifat.

Pengalaman tersebut membuat sang sufi engga melepaskan pakaian perempuannya dan memutuskan untuk menggunakannya terus menerus. Dimulai saat itu ia dijuluki dengan ‘Sada Suhaq’ yang berarti ‘pengantin perempuan yang abadi’.

Di ujung kehidupannya pun ia menginginkan para pengikutnya untuk menguburkannya dengan perhiasan kaca yang dikenakan di tangannya saat wafat kelak.

Setelah wafat, para pengikut tarekat Sadi Suhagiyyah pun menziarahi makam Syekh Musa Sada Suhaq dengan mengenakan pakaian crossdresser. Yakni, para lelaki mengenakan pakaian perempuan untuk menghormati sang sufi.

Hal ini menunjukan bahwa dalam bentangan sejarah Islam terdapat cerita-cerita unik yang jarang sekali dikenalkan kepada kita. Apalagi perihal minoritas gender yang menyimpan stereotipe dan ditempa subordinasi dalam masyarakat bahkan khazanah keilmuan kita. Padahal, secara mendasar Islam mengajarkan cinta dan kasih sayang kepada siapa pun, sekalipun itu minoritas gender.

Tinggalkan Balasan