Bulan Muharram terasa istimewa bagi saya, baik secara pribadi maupun sebagai santri Kajen. Karena di samping penelitian berbulan-bulan saya tentang Syekh Ahmad Mutamakkin membuahkan hasil berupa sebuah novel berjudul Sulur Perjuangan, juga karena bulan tersebut adalah hari raya bagi penduduk Kajen, Pati, Jawa Tengah.
Di bulan ini, baik ribuan santri maupun penduduk akan menyelenggarakan haul besar Syekh Ahmad Mutamakkin. Jalanan padat. Hilir-mudik orang memenuhi sudut-sudut desa. Karnaval. Dan tentu beragam acara yang diselenggarakan selama hampir seminggu.

Ada satu fakta menarik, bahwa ulama-ulama besar seperti Kiai Sahal Mahfudh, Kiai Baha’ Nursalim, Kiai Qoyyum Manshur, Kiai Abdullah Zein Salam, dan ulama besar lain ternyata lahir dari nasabnya.
Mungkin ini fakta yang jarangkali diketahui banyak orang. Namun di balik fakta ini, ternyata sosok tersebut pernah hampir dibakar hidup-hidup di tengah alun-alun Kartasura. Saat itu, Raja yang bertakhta adalah Hamangkurat IV, yang kemudian digantikan oleh sang putra yang bergelar Pakubuwana II.
Siapa Syekh Mutamakkin?
