Dikutip dari buku Manaqib Syekh Ahmad Mutamakkin karya Milal Bizawie, Syekh Ahmad Mutamakkin memiliki nasab yang tersambung sampai kepada Nabi Muhammad melewati jalur; Syekh Ahmad Mutamakkin ibn Syekh Abdurrahim Pangeran Winong bin Pangeran Benawa II bin Sunan Benawa I bin Abdurrahman Basyaiban bin Sayyid Umar bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Ahmad bin Sayyid Abu Bakar Basyaiban bin Sayyid Muhammad Asadullah bin Sayyid Husain At Turaby bin Sayyid Aly bin Sayyid Muhammad Al Faqih Al Muqaddam bin Sayyid Aly bin Sayyid Muhammad Shahib al Murbath bin Sayyid Aly Khali’ Qasim bin Sayyid Alwy bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Alwy bin Imam ‘Ubaidullah bin Imam Ahmad Al Muhajir ila Allah ibn Imam ‘Isa an Naqib bin Imam Muhammad an Naqib bin Imam Alwy al Uraidhi bin Imam Ja’far Shodiq bin Imam Muhammad al Baqir bin Imam Ali Zainal Abdidin bin Sayyidina Husain bin Fathimah Az Zahra binti Sayyidina Muhammad SAW.
Sebelum sampai di Kajen, Syekh Ahmad Mutamakkin hidup di Tuban. Sang ayah adalah Sumohadinegoro yang menjadi seorang Adipati, dan sang paman, Abdurrahman Sambu, yang merupakan sang guru menjadi pendidik awal masa kecil dan remajanya.

Hingga di kemudian hari, waktu mengharuskan dirinya berkelana. Dari Tuban, ia berjalan menuju Gondan, Rembang. Dari situ ia membangun sebuah masjid, dan bertemu dengan Sunan Belitung yang menjadi tokoh agama di sana. Nasib, pada perjumpaannya itu, keduanya sepakat, bahwa salah satu dari mereka harus pergi. Dan Ahmad Mutamakkin mudalah yang mengalah.
Perjalanan ia lanjutkan menuju Banten. Di sana ia bertemu dengan Syekh Yusuf al-Makassari yang telah terlebih dahulu meniti hamparan sahara kawasan Timur Tengah. Darinya, Ahmad Mutamakkin muda diarahkan menuju Yaman, dengan melewati Teluk Persia, hingga akhirnya menuju Haramain untuk berhaji.
Dari sekian titik perjalanan ini, Yaman mungkin menjadi tempat persinggahan Ahmad Mutamakkin muda yang paling berkesan. Di sana, ia berguru kepada Syekh Zein, putra dari Syekh Muhammad Abdul Baqi al-Mizjaji, hingga akhirnya menerima gelar al-Mutamakkin, seorang yang telah memiliki keteguhan hati. Dari situlah nama “Mutamakkin” masyhur dikenal hingga sekarang.
