Lebih lanjut, Masykur menilai bahwa karya Jamal D. Rahman yang dibedah dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana Banten menjadi ruang historis tempat agama, kolonialisme, sastra, dan pengetahuan saling berinteraksi dan berhadapan.
“Buku ini memperlihatkan bahwa Banten bukan sekadar wilayah sejarah, tetapi medan perjuangan dan perjumpaan antara Islam, kolonialisme, sastra, dan produksi pengetahuan,” katanya.

Saat membuka acara, Rektor UIN Banten Muhammad Ishom mengungkap mengulas nasionalisme Syekh Nawawi Al-Bantani yang sering kali luput dipahami banyak orang. “Banyak orang bertanya, di mana letak nasionalisme dalam kitab-kitab Syekh Nawawi. Kalau yang membaca bukan kiai yang waskita, memang tidak akan ketemu,” ujarnya.
Menurutnya, nasionalisme Syekh Nawawi dapat ditemukan dalam karya-karyanya, terutama dalam kitab Al-Futuhat al-Madaniyah fi Syu‘ab al-Iman. Dalam kitab tersebut, Syekh Nawawi menegaskan pentingnya menjaga martabat agama dan umat Islam di tengah dominasi kolonialisme.
“Beliau menulis, jangan kalian berdiri di tengah-tengah kaum penjajah yang menindas. Karena itu merupakan bentuk merendahkan agama Allah. Karena itulah beliau memilih hijrah,” jelas Ishom.
Menurutnya, bentuk nasionalisme Syekh Nawawi juga tercermin dalam ajarannya untuk melindungi sesama umat Islam, baik jiwa, keluarga, maupun harta bendanya. “Syekh Nawawi mengajarkan agar apa yang kita miliki digunakan untuk melindungi saudara-saudara kita. Ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap umat dan masyarakat merupakan bagian dari semangat kebangsaan yang beliau wariskan,” katanya.
Penulis buku Islam, Sastra, dan Pengetahuan, Jamal D. Rahman, saat sesi penyampaian materi mengajak peserta melihat Syekh Nawawi Al-Bantani dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, buku yang ditulisnya tidak hanya membahas Syekh Nawawi, tetapi juga mempertemukan tiga tokoh besar yang memiliki hubungan dengan sejarah kolonialisme dan perkembangan pemikiran di Nusantara, yakni Syekh Nawawi Al-Bantani, Multatuli, dan Snouck Hurgronje.
“Multatuli dan Syekh Nawawi tidak pernah berjumpa secara fisik. Mereka adalah pertemuan tanpa perjumpaan. Mereka bertemu dalam sikap terhadap kolonialisme. Yang satu melawan kolonialisme melalui kitab kuning, yang lain melalui karya sastra,” ujar Jamal.
Menurutnya, nasionalisme dalam pemikiran Syekh Nawawi tidak diekspresikan secara terbuka sebagaimana konsep nasionalisme modern, melainkan ditanamkan secara halus melalui karya-karya keagamaan yang ditulisnya.
“Dengan tegas saya mengatakan bahwa meskipun nasionalisme pada masa itu belum dikenal, spirit nasionalisme Syekh Nawawi ditanamkan sangat halus tetapi sangat dalam kepada murid-muridnya melalui kitab-kitabnya,” katanya.
