“Bukannya kamu yang selalu menyuruh orang lain untuk percaya diri? Laki-laki tak punya pendirian!”
Semakin pusinglah kepala Agus. Dan terdetiklah dalam hatinya untuk sowan pada Kiai Majid, guru yang pernah mengajarinya obat itu.

“Saya hendak bertanya kenapa resep obat itu tiba-tiba kehilangan khasiatnya, padahal hari sebelumnya bapak saya langsung sembuh dengan obat itu. Kenapa Kiai?” tanya Agus pada Kiai Majid.
Kiai sepuh itu tampak marah. Muridnya itu ia diamkan hingga beberapa saat.
“Kau tidak yakin,” ucap Kiai Majid.
“Tidak, Kiai. Saya sangat yakin sekali pada khasiat obat yang pernah Kiai berikan pada saya dulu itu,” protes Agus.
“Kau tidak yakin,” ulang Kiai Majid.
Dan Agus pun terlongok-longok kebingungan.
“Ketika mengobatimu, aku hanya berbekal keyakinan pada Allah, serta rasa kasihan padamu. Begitu pula perasaanmu ketika mengobati bapakmu. Namun, ketika kau jual obat itu keyakinanmu berubah. Niatmu pun berubah. Kamu tidak yakin pada kekuasaan Allah. Tapi cenderung condong percaya pada khasiat obat itu. Padahal yang bisa mengobati adalah Allah, bukan obat. Niatmu pun berubah dari keinginan mengobati karena welas asih menjadi niat mencari keuntungan. Paham?” gertak Kiai Majid.
Tubuh Agus gemetar. Ia terdiam menginsafi kelakuannya.
