Moral patut diimplementasikan di segala sudut kehidupan, tidak terbatas ruang dan waktu. Sebab hal itulah yang secara spesifik membedakan antara manusia dengan makhluk lain.
Memasuki abad 21, eksistensi moral dalam kehidupan mengalami degradasi. Degradasi moral sendiri adalah kemorosatan tingkah laku dari kesalehan menuju perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang ada. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran diri terhadap kewajiban dan eksistensi Tuhan.

Contoh realistis dari terdegradasinya moral dewasa ini adalah dari perilaku yang terjadi di ranah sosial. Pada anak sekolah, krisis moral ditunjukkan dengan perilaku tawuran, bullying, menyontek, mabuk, dan pembegalan.
Tidak hanya itu, pada taraf usia dewasa, krisis moral tersebut dipertontonkan dengan kasus korupsi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan seksual, dan masih banyak lagi. Fenomena-fenomena tersebut menyimbolkan kualitas moral pada era kontemporer ini. (Fitria Meisarah, dkk, Dunia Pendidikan Indonesia Menuju Era Revolusi 4.0, 53).
Ta’dib Sebagai Metode Pembelajaran
Seperti yang disampaikan Nuqaib al-Attas, bahwa ta’dib memiliki peran yang lebih vital disbanding dengan ta’lim, tarbiyah, tadris, maupun yang lain. Ta’dib memuat nilai teoretis maupun praktis.
Nilai teoretis termanifestasikan dengan pemahaman dan kesadaran akan pengetahuan, umum maupun agama, sebagai bekal hidup dunia dan akhirat. Sedangkan, nilai praktis disini menitikberatkan pada kualitas manusia yang dibahasakan dengan tingkah laku yang baik, beradab, bermoral, dan tidak merugikan. (M. Nuqaib al-Attas, Ta’lim al-Islamy-Ahdafuh wa Maqasidah, 56).
Penyemaian adab dalam upaya ta’dib sebagai metode pembelajaran, merupakan hal substansial dalam pendidikan Islam. Secara ontologis, ta’dib mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dengan bekal fitrah yang dihaturkan Tuhan sejak ia lahir. Setidaknya, ta’dib memiliki empat cakupan yaitu education (pendidikan), discipline (kedisiplinan), chastisemen (hukaman), dan disciplinary punishment (hukuman sebagai penunjang kedispilinan).
Al-Attas lebih mengistilahkan pendidikan Islam dengan ta’dib karena konsistensi perhatiannya terhadap akurasi dan autentitas dalam memahami ide-ide dan konsep-konsep Islam. Nilai-nilai yang terkandung ta’dib secara keseluruhan sudah memuat nilai-nilai tarbiyah dan ta’lim. Dengan ta’dib mampu mewujudkan tingkah laku dan sifat-sifat yang sebagaimana diteladankan oleh Rasullah SAW, atau dalam kata lain menjadi insan kamil
