Tafsir Feminis dan Resistensinya di Indonesia

Dalam konteks politik identitas yang kuat, banyak kelompok memilih mempertahankan interpretasi lama sebagai representasi kekuasaan agama, sementara interpretasi feminis dianggap terlalu permisif atau radikal. Ini membuat ruang akademik dan sosial terbatas untuk percakapan teologis yang lebih progresif dan adil gender.

Tafsir untuk Keadilan

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tafsir feminis adalah upaya untuk memaknai Al-Qur’an dengan cara yang lebih adil dan relevan dengan kehidupan perempuan Muslim saat ini. Pesan Islam kembali ke prinsip-prinsip dasar: rahmah, keadilan, dan kemaslahatan. Ide-ide seperti bahwa menyusui adalah tanggung jawab bersama dan bahwa kekuasaan laki-laki tidak sama dengan kepemimpinan rumah tangga.

Akademisi, aktivis perempuan Muslim, dan tokoh agama progresif memainkan peran penting dalam membangun ruang tafsir yang inklusif di tengah tantangan yang masih kuat. Landasan baru untuk memahami Al-Qur’an harus berasal dari kesadaran bahwa teks tidak pernah netral dan tafsir selalu bergantung pada konteks.

Jika Islam adalah agama yang berlaku sepanjang zaman, maka penafsirannya juga harus mampu menangani tantangan yang muncul sepanjang zaman. Tafsir feminis adalah bagian dari upaya ijtihad untuk memastikan bahwa keadilan Islam tetap ada dalam hidup perempuan modern, bukannya musuh Islam.

Wallu a’lam.

Tinggalkan Balasan