Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21).
Dengan demikian, akhlak secara spesifik memiliki landasan dalil wahyu dan contoh figur seorang nabi utusan Tuhan semesta alam.

Hal ini juga senada dengan hadits Nabi yang dikutip KH Mujib Imron sebelumnya:
مَنْ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا
Artinya: “Barang siapa ilmunya bertambah, namun tidak dibarengi dengan bertambahnya petunjuk (ketakwaan), maka ia semakin jauh dari Allah.”
Dalam hadits ini ada kata “hudan” atau hidayah, yang bisa dimaknai bahwa ketakwaan kepada Allah menjadi pijakan dekat dengan Allah, bukan hanya ilmu yang banyak semata.
Lalu, bagaimana penafsiran soal akhlak sebagai dasar kedekatan seseorang dengan Allah yang mana secara redaksional ada perbedaan dalam sejumlah dalil tersebut?
Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin pada bab keenam menjelaskan:
الباب السادس
في آفات العلم وبيان علامات علما الآخرة والعلماء السوء
Pembahasan Imam al-Ghazali tentang bahayanya ilmu pengetahuan dan ulama su, beliau tuliskan hadits Nabi:
إن أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه
Artinya: “Manusia yang sangat memperoleh azab pada hari kiamat ialah orang yang berilmu yang tiada bermanfaat dengan ilmunya.”
Berlimpahnya ilmu pengetahuan yang tidak menjadikan keselamatan atas orang yang memilikinya karena tidak ada nilai kemanfaatan dipertegas lagi oleh dengan hadits berikut:
