Tafsir Relasi Ilmu dengan Akhlak

‫أنه قال; لا يكون المرء عالما حتى يكون بعلمه عاملا

Artinya: “Tidaklah seorang itu berstatus alim sebelum berbuat menuruti ilmunya.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Secara redaksi, hadits ini menegaskan yang merasa sudah di tingkat ulama belum sah sebelum ia mengamalkan ilmunya.

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, Kiai Mujib Imron mengambil kesimpulan bahwa aplikasi atas ilmu adalah akhlak karimah. Akan berbahaya jika orang berilmu akan tetapi berjiwa munafik, seperti pernah diungkapkan sahabat Nabi dan ulama-ulama terdahulu. Di antaranya yang pernah disampaikan oleh sahabat Sayyidina Umar dalam sebuah majlis:

“Yang paling saya takutkan kepada umat ini ialah orang munafik yang berilmu.”

Bertanya hadirin: “Bagaimana ada orang yang munafik berilmu?”

Umar menjawab: “Berilmu di lidah, bodoh di hati dan di perbuatan.”

Sindiran ketidakmanfaatan ilmu pengetahuan tanpa didasarkan akhlak juga pernah disampaikan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin:

‎طالب العلم : إذا لم يتحل بالأخلاق الفاضلة فإن طلبه للعلم لا فائدة فيه

Artinya: “Seorang penuntut ilmu, jika tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, maka tidak ada faidah menuntut ilmunya.”

Dengan demikian, maka orang yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah baik akhlaknya, maka tetap jauh dari Allah. Dengan perkataan lain, tanpa diikuti bertambahnya hudan atau hidayah dan akhlak karimah, bertambahnya ilmu tak akan bisa mendekatkan seseorang kepada Allah. Karena, sesuai dengan hadits berikut ini:

‎أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ

Artinya: “Yang paling banyak masuk ke surga adalah yang takwa kepada Allah dan berakhlak mulia.”

Tinggalkan Balasan