Kustopo dalam buku ini juga mengulas sejarah wayang. Ia menulis bahwa sebagaimana di dalam Kitab Centini, asal-usul kesenian wayang diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Kediri. Pada abad ke-10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar (hlm. 2).
Masa berikutnya, pada zaman Jenggala, kegiatan penciptaan wayang semakin berkembang. Semasa berkuasa Sri Suryawisesa giat menyempurnakan wayang Purwa. Selama masa pemerintahan Suryaamiluhur gambar-gambar wayang dari daun lontar hasil ciptaan leluhurnya dipindahkan pada kertas dengan tetap mempertahankan bentuk yang ada pada daun lontar. Lalu, pada zaman Majapahit usaha melukiskan gambaran wayang di atas kertas disempurnakan dengan ditambah bagian-bagian kecil yang digulung menjadi satu.

Pada masa pemerintahan Raja Brawijaya, berkat bantuan putranya yang bernama Raden Sungging Prabangkara, ia menyempurnakan wujud wayang dengan cat. Lalu, sejak runtuhnya kerajaan Majapahit (1433 tahun saka atau 1511 M), wayang beserta gamelannya diboyong ke Demak oleh Sultan Demak Syah Alam Akbar I yang sangat menggemari seni kerawitan dan pertunjukan wayang.
Tak hanya masa sekarang, saat itu pun, sejak wayang serta seperangkat alatnya dibawa ke Kerajaan Demak, terdapat anggapan dari sebagian pengikut agama Islam bahwa gamelan dan wayang adalah kesenian yang haram sebab berbau Hindu. Maka, untuk menghilangkan kesan yang serba berbau Hindu dan kesan pemujaan kepada arca, timbullah gagasan baru untuk membuat wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia.
Kemudian, berkat keuletan dan keterampilan para pengikut Islam yang menggemari kesenian wayang, terutama para wali, berhasil menciptakan bentuk baru dari Wayang Purwa dengan bahan kulit kerbau yang agak ditipiskan dengan wajah digambarkan miring, ukuran tangan dibuat lebih panjang dari ukuran tangan manusia, sehingga sampai ke kaki. Tokoh yang menciptakan wayang seperti ini adalah Sunan Kalijogo.
