Fenomena keterlibatan organisasi masyarakat (ormas) keagamaan dalam sektor pertambangan di Indonesia membuka perspektif yang menarik dalam kajian sosiologi agama. Jika dilihat melalui teori sekularisasi, kita menyaksikan suatu paradoks menarik; alih-alih agama yang tergeser dari ruang publik, justru lembaga keagamaanlah yang memilih untuk memasuki ranah yang selama ini didominasi oleh logika sekuler.
Peter L. Berger, dalam karya awalnya “The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Relegion”, mengemukakan bahwa modernisasi akan membawa pada sekularisasi masyarakat. Ia berpendapat bahwa seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, peran agama dalam masyarakat akan semakin berkurang—namun, dalam perkembangan pemikirannya, Berger sedikit mengoreksi dan merevisi teorinya, serta mengakui bahwa agama tetap memiliki peran penting di era modern, bahkan dalam bentuk-bentuk yang baru.

Keterlibatan ormas keagamaan dalam industri pertambangan, dapat dilihat sebagai manifestasi dari apa yang bisa kita sebut sebagai “sekularisasi terbalik”. Alih-alih agama yang terdesak oleh rasionalitas ekonomi, justru lembaga keagamaan yang mencoba membawa nilai-nilai religius ke dalam ranah yang selama ini dianggap sekuler.
Namun, proses ini tidak tanpa risiko. Berger mengingatkan bahwa ketika agama bersentuhan dengan logika pasar, ada kecenderungan untuk mengadopsi cara berpikir dan bertindak yang lebih berorientasi pada efisiensi dan keuntungan. Dalam ranah pertambangan, ini bisa berarti ormas keagamaan menghadapi dilema antara mempertahankan nilai-nilai spiritual mereka atau mengikuti tuntutan industri yang sering kali bertentangan dengan prinsip-prinsip keagamaan.
