Tanazu’ul Baqo’

Tapi nyatanya hal-hal demikianlah yang menunjukkan eksistensi makhluk hidup itu benar-benar hidup. Ketika ada orang dengan idealisme mewujudkan keadlian berupa kesetaraan, justru itulah yang menusuk-nusuk nilai keadilan. Seorang anak TK tidak mungkin disamakan uang jajannya dengan anak kuliahan. Di satu sisi logika kita mengatakan hal tersebut masuk akal, namun jangan lupa sisi lain (empati) juga punya pandangan tersendiri. Seberapa pun kita bersikukuh ingin menegakkan idealisme kita, realita akan mengadang dengan berbagai macam cara. Yang bahkan tidak pernah kita kira bagaimana caranya.

Terkait dengan judul dalam buku muthola’ah tadi. Gelap berseteru dengan terang. Terbit saling kejar dengan terbenam. Baik beradu tinju dengan buruk, dsb. Semua sifat tadi saling menunjukkan bahwa mereka ada. Dan yang paling rakus mengadopsi sifat-sifat tadi adalah manusia. Sampai-sampai Allah utus dua malaikatnya untuk menjaga mereka. Di kiri dan di kanan, Raqib dan Atid.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam menentukan apa yang akan manusia perbuat, pasti selalu melibatkan dua wajah tadi yang kita bahas di awal. Ada sisi malaikat dan ada sisi setan. Bukan hanya sifat keduanya yang menemani manusia, melainkan juga sosoknya. Selama ini kita hanya bisa merasakan. Tak pernah bisa melihat bagaimana perwujudan setan dan malaikat, kecuali hanya dari gambaran kisah. Drummer SID, Jering, mengatakan di postingan instagram-nya sambil berkaca, “Lama-lama jadi mikir apa visual “setan” sengaja dibikin seram (seperti saya) oleh ‘mereka’ supaya gak ada yg nyangka jika setan yang sebenarnya kebanyakan polos, sopan, pemalu, kikuk, dan pakai kaca mata ya?”

Tinggalkan Balasan