Dalam pelajaran Muthola’ah wal Insya’ yang saya pelajari semasa kelas dua Madrasah Aliyah, ada sebuah judul tanazu’ul baqo yang artinya saling beradu menunjukkan eksistensi. Ketika dipinta oleh guru untuk menghafalkannya, saya tidak pernah hafal. Tapi kala itu, judul tersebut terlalu menarik buat saya. Anehnya, justru tidak dapat saya taklukkan. Seperti analogi bahwa kamu orang yang gantengnya minimalis, namun menginginkan wanita yang seksi, manis, dan cantiknya maksimal. Mungkin kamu bisa; bisa ditolak lebih tepatnya atas berbagai alasan.
Balik ke judul tadi. Hingga suatu ketika saya buka lagi buku tersebut. Sesuai judul bukunya, muthola’ah yang artinya ditelaah. Kemudian saya baca secara seksama buku tersebut dan bukan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Alias lama.

Kemudian saya menyimpulkan bahwa segala sesuatu memiliki dua wajah berbeda. Secara sederhananya, ada pro dan kontra. Siapa pun dan apa pun bisa menilai dirinya pro maupun kontra. Seperti kata Bang Pandji Pragiwaksono, “Kadang-kadang kita suka bilang kita Pancasila banget, tapi kita masih membeda-bedakan. (Contoh: pengakuan) kita sebagai orang baik dan orang lain jahat”. Sudah terjadi di masyarakat kita hal-hal seperti itu. Jelas bukan? Siapa pun bisa mengklaim pribadi mereka masing-masing.
